Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

August 21, 2017

Menikmati Kuliner, Merasakan Keragaman Budaya di Australia

yang nulis Isma Kazee di 11:26 PM 0 komentar


Suatu sore di Melbourne, tepatnya di Fitzroy bagian utara, orang-orang tengah berdiri menunggu di emperan sebuah restoran. Pada jendela kaca dan sebuah papan nama berwarna putih yang ditempel cukup tinggi di dinding luar restoran, tertulis nama Moroccan Soup Bar. Ini adalah sebuah restoran yang menawarkan menu vegetarian dan diolah dengan bumbu khas Maroko. Tak cuma lewat masakannya, restoran yang terletak bersebelahan dengan toko The Old Post Office Antiques ini menampilkan identitas kemarokoannya melalui lukisan dan lampu-lampu sebagai hiasan interior. Tampak unik dan khas.

Kenangan tentang restoran ala Maroko ini membuka ingatan saya akan perjalanan Muslim Exchange Program 2014. Di antara sekian banyak perbincangan, diskusi, berbagi pengalaman, dan pembelajaran yang saya dapat lewat kunjungan ke organisasi dan lembaga, satu hal yang tak kalah menarik untuk diceritakan adalah tentang sajian kulinernya yang menggoda. Makanan-makanan ini berbeda-beda setiap harinya, membentangkan ragam budaya dan negara asal pengolahnya. Dan karena memang dimasak oleh juru masak dari negara asal makanan tersebut, soal rasa jangan ditanya enaknya.  

“Kami sengaja tidak menyediakan informasi menu tertulis, karena kami sendiri yang akan menjelaskan menu apa yang kami masak hari ini,” ucap Hanna Assafiri, sang pemilik Moroccan Soup Bar, begitu saya dan teman-teman sudah menempati dua deret meja persegi panjang di dalam restoran yang tak terlalu luas itu. Melalui menu yang dituturkan, Hanna merasa sambutan dan pelayanan kepada tamu berasa lebih personal karena face to face. Ia juga menjelaskan kalau restorannya tidak banyak mengambil untung dan hanya mempekerjakan perempuan untuk pemberdayaan. “Begitulah saya ingin menerapkan prinsip-prinsip Islam di restoran ini,” lanjutnya.

Menarik sekali, pikir saya. Apalagi baru sekali itu saya menikmati masakan Maroko dan mendapati ‘spoken menu’ yang diterapkan pemiliknya. Memiliki usaha restoran bukan semata untuk bisnis melainkan juga untuk memperkenalkan dan membangun kedekatan tentang nilai dan budaya asal mereka kepada warga setempat di tempat baru. Sajian asal warga pendatang secara perlahan berhasil menjembatani penerimaan dan pembauran nilai dan budaya. Jika dulu aroma kunyit dan jintan tercium aneh, misalnya, lambat laun kedua rempah itu justru menjadi daya tarik bagi warga setempat untuk menikmati makanan berkunyit dan berjintan itu lagi. Apalagi jika dibumbui dengan pendekatan personal seperti yang dilakukan Hanna. Ia tidak hanya menjelaskan menu yang akan disajikan, dengan senang hati ia juga bersedia berbagi cerita awal mula ia membangun restorannya.  

Pengalaman yang kurang lebih sama saya alami ketika saya tinggal bersama host family untuk satu malam di pinggiran Melbourne. Host family saya secara budaya lebih dekat dengan Malay karena Ibu berasal dari Singapore, meskipun sang Ayah berasal dari Australia. Mereka memiliki dua anak yang lucu, perempuan dan laki-laki. “Kita akan pergi makan pho di restoran Vietnam,” jelas Ibu. “Isma sudah pernah makan pho?” lanjutnya. Saya mengangguk. “Saya suka pho. Itu termasuk makanan favorit.” Berlima kami satu mobil sedan menuju Zin Viet Authentic Vietnamese restaurant. Saya duduk di jok tengah bagian belakang, diapit dua car seat untuk balita di sebelah kanan dan kiri. Sementara Ibu pegang setir dan Ayah di sebelahnya.

Selain saya, Ibu juga mengundang tiga keluarga Malay yang lain untuk ikut bergabung. Mereka datang bersama anak-anak mereka yang juga masih kecil-kecil. Meskipun cara sajian menu di restoran ini masih konvensional, dengan ditulis, saya tetap merasakan bagaimana pho yang bukan masakan khas negara saya juga keluarga yang lain, bisa kami terima dan nikmati bahkan menjadi makanan favorit. Sepanjang kami menikmati pho, mengalir juga obrolan tentang kehidupan di Melbourne, kabar keluarga di Singapore, cerita tentang liburan atau restoran pho lain yang biasa mereka singgahi. “Ini restoran baru, dan kami mau ke sini karena halal,” jelas Ibu.

Pada kesempatan lain, ketika saya dan teman-teman berkunjung ke sebuah masjid tua di Soperton, seorang perempuan berjilbab datang menghampiri kami. “Apakah kalian sudah makan?” ia bertanya. Saya melempar pandang ke arah Tara meminta persetujuan. Kami belum makan, tapi menerima tawaran makan dari orang asing? Saya masih merasa tidak aman dan nyaman. Ini bukan soal makanan enak atau tidak enak, melainkan tentang keamanan. “Kami baru saja mengadakan syukuran, dan masih banyak makanan tersisa. Kami mengundang kalian untuk makan di rumah kami,” jelasnya lagi. Menangkap maksud baik si Ibu, saya dan teman-teman pun mengangguk menerima ajakan makan malam di rumahnya.

Kami hanya perlu menyeberang jalan beraspal di depan masjid untuk sampai di rumah si Ibu. Selain si Ibu, ada dua perempuan berjilbab lain yang membantu untuk menyiapkan makan malam kami. Sambil menikmati sajian masakan India, setelah yang pertama kami menikmatinya di restoran Curry Vault di Melbourne, kami saling bercerita. Si Ibu dan suaminya berasal dari Hyderabad, India tapi sudah lama menetap di Soperton. Satu orang perempuan dari Indonesia, dan setelah melewati proses panjang akhirnya bisa tinggal di Australia. Sementara satunya lagi lahir dan besar di Australia dan baru saja masuk Islam, dan untuk itulah ia mengadakan syukuran. Kami bercerita seperti kawan lama yang sudah saling kenal sebelumnya. Padahal, kami baru beberapa jam lalu bertemu di halaman bagian dalam masjid untuk jamaah puteri.

Dan masih banyak cerita-cerita di sela-sela sajian menu yang beragam sepanjang dua minggu perjalanan MEP 2014. Saya yang lahir dan tumbuh di lingkungan Jawa Indonesia, ketika berkunjung ke Australia ternyata mendapat suguhan masakan rasa Indonesia, Malaysia, Vietnam, India, Maroko, Turki, dan masih banyak lagi, bahkan hingga Uighur. Sambil saya menikmati kuliner, saya pun merasakan keragaman budaya di Australia.

___________________________________
sumber: 
Nor Ismah, "Menikmati Kuliner, Merasakan Keragaman Budaya di Australia", Yanuardi Syukur (Ed.) Hidup Damai di Negeri Multikultur: Pengalaman Peserta Pertukaran Tokoh Muda Muslim Australia-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2017)

November 07, 2014

Komunitas Matapena:
Suara Santri Lewat Tulisan dan Sastra

yang nulis isma di 1:56 PM 4 komentar
Untuk mengisi waktu senggang di kamarnya, Gus Kapsul selalu membaca kitab. Kitab-kitab besar sejenis Ihya’, Fathul Wahab, Iqna’ dan Tafsir Jalalain. Pokoknya yang besar, yang bisa menjadi persembunyian buku teka-teki atau Wiro Sableng yang sedang dinikmatinya. Itu dulu, pas belum jihad fi sabili bola. Sekarang, yang dibacanya adalah tabloid Bola, Soccer, dan sejenisnya. Cuma masalahnya, kalau menyembunyikan buku teka-teki di balik kitab memang gampang. Lalu bagaimana dengan tabloid Bola? Karena yang disembunyikan ternyata lebih besar dari kitab persembunyiannya? (Laskar Hizib, hlm. 154)

Mahbub Jamaluddin dengan apik menuliskan kisah-kisah unik santri dalam salah satu novelnya itu yang terbit pada tahun 2007. Ia memang bukan satu-satunya penulis kisah ala santri, bukan juga penulis pertama yang mengisahkan cerita santri ke dalam novel, cerpen, atau puisi. Jauh sebelum Mahbub sudah ada Jamil Suherman, D. Zawawi Imron, Ahmad Tohari, Gus Mus, Abidah el-Khaliqi, Faizi Sareyang, dan nama-nama penting lainnya dalam kancah kesastraan Indonesia. Namun, bagi Komunitas Matapena, Mahbub dan para penulis seperti Zaki Zarung, Pijer Sri Laswiji, Shachree M. Daroini, Ma’rifatul Baroroh, dan S. Tiny menjadi gunting pita bagi lahirnya komunitas yang mempromosikan Gerakan Santri Indonesia Menulis ini.

Matapena memulai program roadshow ke pesantren-pesantren pada Desember 2005 berkat dukungan dana dari Penerbit LKiS Yogyakarta. Ia kemudian membuka keanggotaan bagi para santri dan siswa-siswi sekolah di Jawa dan Madura. Dengan bergabung menjadi anggota, mereka mengikuti training kepenulisan yang diadakan oleh Matapena secara cuma-cuma. Training biasanya dilaksanakan selama dua hari dengan materi pengayaan gagasan untuk ditulis meliputi pengalaman santri, nilai-nilai lokal pesantren yaitu tawasuth, tasamuh, tawazun, dan ta’adul, kesetaraan gender, serta Living Values Education. Di samping materi tentang teknik kepenulisan dan praktik pembuatan media publikasi seperti majalah dinding, bulletin, atau blog. Saat ini tercatat sekitar 1200 anggota bergabung dengan Komunitas Matapena.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa menulis dan bersastra merupakan kegiatan ekstra yang menarik bagi santri dan remaja. Ini dapat dilihat tidak saja pada kiriman naskah yang banyak diterima oleh Matapena, tetapi juga pada pelaksanaan Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) Pertama yang diadakan di Pesantren Kaliopak Yogyakarta tahun 2006. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 100 peserta dari pesantren di Jawa dan Madura. Mereka membayar kontribusi bahkan membiayai sendiri biaya perjalanan dari dan menuju lokasi kegiatan. Sebuah bentuk antusiasme dan kesukarelaan yang patut untuk diapresiasi. Bahkan hingga tahun ini, antusiasme untuk mengikuti LSdP Matapena masih terus mengalir.

Namun, seperti komunitas kepenulisan yang lain, Matapena pun mengalami pasang surut karena pengaruh intensitas para pengurus—dikenal dengan Penjaga Rumah Kreatif Matapena—yang masih bersifat voluntary, pengembangan program, dan pendanaan. Para penjaga Matapena yang kebanyakan adalah mahasiswa tentu memiliki keterbatasan waktu untuk bekerja 8 jam demi komunitas, demikian juga penjaga yang berstatus guru atau karyawan. Tak jarang kegiatan yang sudah direncanakan tiba-tiba harus digagalkan karena kesibukan. Faktor pendanaan juga lumayan berpengaruh, sehingga ketika pihak donatur tidak lagi memberikan dukungan, gerakan fisik Matapena tidak lagi setrengginas dulu.

Lalu, apakah Komunitas Matapena kini sudah kehilangan kuku taringnya? Ini pertanyaan yang sangat menantang. Hampir seluruh penjaga dan orang-orang yang memiliki kedekatan struktural dan kultural dengan Matapena mengamini bahwa garakan Matapena bukan gerakan main-main. Ini adalah gerakan yang mengusung peradaban pesantren dalam konteks keindonesiaan, dan gerakan untuk menciptakan sejarah pesantren oleh para generasi muda pesantren. Matapena coba mengangkat tulisan unik para santri yang pada masa-masa maraknya chicklit dan teenlit akhir tahun 90an seperti tenggelam dalam lorong-lorong sempit bangunan pesantren. Ia juga menggebrak para santri untuk mencintai pengalamannya dan menuliskannya untuk masyarakat pembaca. Menjadi percaya diri dengan keilmuan dan Islam pesantren dan menyebarkannya melalui sastra dan tulisan.

Meskipun tidak sedikit yang nyinyir mengatakan bahwa pada masanya penulis santri akan kehabisan gagasan untuk dituliskan, atau mengatakan bahwa anggota Komunitas Matapena adalah anak-anak kemarin sore yang tidak penting untuk diperhitungkan. Mungkin kita lupa bahwa kehidupan dunia sudah jauh lebih dulu dituliskan dalam sastra sejak berabad-abad lampau, dan tak juga habis untuk diartikulasikan. Kita mungkin juga abai dengan paling tidak 30 novel pop pesantren yang mendeskirpsikan persinggungan antara pesantren dan issue-issue modernism, misalnya soal kesetaraan perempuan, salah satu contohnya adalah novel Jadilah Purnamaku Ning, yang ditulis oleh Khilma Anis. Karya fiksi juga memiliki kekuatan sebagai media pembelajaran bagi santri dan remaja pada umumnya, misalnya belajar tentang pubertas dan fikih seperti yang dideskripsikan Isma Kazee dalam novel Jerawat Santri.

Jadi, barangkali tidak ada alasan yang lebih kuat lagi bagi Komunitas Matapena untuk tetap bergerak dan membangun masyarakat santri dengan beberapa konsekuensi pengembangan yang harus dilakukan. Program dan kegiatan yang selama ini belum terlihat kejelasan outputnya barangkali perlu direformulasi. Penggunaan media untuk persebaran produk dan promosi komunitas juga penting untuk di-update dan dievaluasi keterjangkauan persebarannya, dan barangkali bisa dikembangkan untuk merawat dan memenej para anggota yang sudah berjumlah ribuan. Terakhir yang tak kalah penting adalah bagaimana melakukan kaderisasi dan capacity building bagi Penjaga Rumah Kreatif Matapena, serta menjaga spirit kesukarelaan dan semangat melahirkan inisiatif-inisiatif untuk memajukan komunitas (Isma KZ).

Tentang Ulama Perempuan Rahima

yang nulis isma di 1:28 PM 0 komentar
Kata Pengantar Editor
Buku Profil Ulama Perempuan Rahima

Sebagaimana istilah Ulama Perempuan yang masih terdengar asing, buku tetang profil dan best practice para ulama perempuan juga masih jarang dijumpai. Setidaknya saya baru mambaca satu buku dengan judul besar Ulama Perempuan Indonesia yang dikompilasi oleh PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta, terbitan tahun 2002. Namun, hal ini bukan berarti bahwa hanya sedikit perempuan muslim yang memiliki kapabilitas keulamaan dan melakukan pemberdayaan masyarakat, melainkan karena cerita panjang marginalisasi peran dan luputnya peran penting dan prestasi perempuan dalam catatan-catatan sejarah peradaban.

Dalam sebuah forum bertajuk “Ulama Perempuan dalam Wacana Islam: Sketsa Sejarah yang Masih gelap” yang digelar oleh P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) pada 25 Juni 1996 silam, Azyumardi Azra menyampaikan bahwa sejarah tentang ulama perempuan memang belum menjadi suatu sejarah yang terang benderang. Ia melihat ada dua pertanyaan yang bisa diajukan, yaitu terkait pendidikan keulamaan untuk perempuan dan penulisan tentang perempuan. Selama ini, kecenderungannya laki-laki masih mendominasi tradisi keulamaan atau keilmuan. Meskipun dalam tataran konsep ideal Islam, dinyatakan bahwa menuntut ilmu menjadi kewajiban bagi laki-laki dan perempuan, tidak demikian dalam tataran pelaksanaan. Alhasil, kesempatan yang diperoleh perempuan dalam pendidikan Islam untuk sampai pada derajat keulamaan masih belum memenuhi.

Buku berjudul Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan: Profil Kader Ulama Perempuan Rahima yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Rahima memfasilitasi peningkatan kapasitas keilmuan perempuan untuk membangun tradisi keulamaan di kalangan perempuan, dan menuliskan profil-profil perempuan kader ulama dalam sebuah buku untuk mengisi kekosongan referensi tentang ulama perempuan di Indonesia. Buku ini memuat 40 profil kader ulama perempuan yang pengikuti program Pendidikan Ulama Perempuan dan program Pendidikan Tokoh Agama yang dilakukan oleh Rahima. Bersumber dari data yang didapat melalui interview langsung dengan para kader, tulisan-tulisan dalam buku ini terbaca jujur, lugas, dan dekat dengan pengalaman perempuan.

Membaca dan mengedit 40 profil ulama perempuan merupakan kesempatan yang sangat berharga sekaligus menantang. Saya mengedit tulisan jadi yang ditulis oleh empat orang penulis dari Rahima. Profil-profil perempuan hebat dalam buku ini ditulis dalam bentuk feature yang bercerita tentang kehidupan dan proses yang mengantar mereka hingga menjadi seseorang di tengah-tengah komunitas dan masyarakat mereka. Tantangan pertama adalah menjaga keunikan setiap tulisan sekaligus menarik benang merah yang sama di antara tulisan-tulisan tersebut sesuai dengan kisi-kisi yang diharapkan oleh Rahima. Sementara pada saat yang sama profil-profil tersebut bukan tulisan individual.

Kedua, membutuhkan sense tersendiri untuk menghasilkan tulisan feature yang hidup dan terbaca enak. Saya memahami betul tantangan yang dihadapi oleh para penulis. Mereka harus meramu hasil interview, mengubah bahasa lisan ke dalam bahasa tulis, memutar otak untuk membuat tulisan profil yang tidak monoton antara satu dengan yang lain, meskipun draft pertanyaan interviewnya sama. Apalagi jika kegiatan yang dilakukan oleh para kader ulama perempuan hampir berdekatan sama satu sama lain. Para penulis harus menyiasati agar setiap tulisan bisa terbaca unik dan berbeda. Beberapa tulisan tampak sudah kaya, mencatat semua hasil pandangan mata, gerak-gerik responden, setting waktu dan tempat, dan hal-hal kecil yang memperkuat pemindahan realitas ke dalam tulisan, seperti tulisan berjudul “Iroh Suhiroh: Mendorong Perempuan Untuk Mandiri secara Ekonomi” dan “Afwah Mumtazah: Pendiri Madrasah Takhasus lil Banat”.

Untuk menghadirkan sense tersebut, saya juga membaca kembali hasil transcript interview, terutama untuk beberapa tulisan yang perlu pembenahan, hubungan antarkalimat yang belum selaras, atau elaborasi yang perlu penajaman. Sebagai pembaca kritis, saya kadang menjumpai bagian-bagian yang sebenarnya penting untuk dieksplore lebih mendalam namun bahan eksplorasinya tidak saya temukan di dalam transkrip wawancara. Meskipun demikian, kekurangan ini tidak mempengaruhi kekayaan pengalaman-pengalaman para tokoh. Saya banyak menemukan kisah perjuangan yang menarik dari tulisan-tulisan tersebut. Misalnya dalam “Umi Hanik: Bu Nyai Lawan Debat yang Tangguh”. Sebagai pendatang ia membangun komunitas pengajian Al-Qur’annya dari nol, hingga berkembang dengan ribuan jamaah. Ia menyebarkan pesan-pesan keadilan dan penguatan untuk potensi-potensi perempuan dalam setiap kesempatan. Ia bahkan berani berdebat dengan modin dan mengajukan diri ikut bahtsul masail yang sering didominasi oleh laki-laki.

Melalui cerita-cerita yang membentang dari Jawa Barat sampai Madura, saya menemukan bahwa setiap perempuan biasa berstrategi untuk melapangkan jalan pencapaian tujuan, dan mereka tentu sangat lihai memainkannya. Dalam “Nurul Sugiyati: Mendengar Suara Kekerasan” misalnya, kader ulama perempuan yang sering mendampingi korban kekerasan ini menuturkan strategi-strategi yang ia gunakan untuk pendidikan adil gender. Ia melakukan komunikasi di tingkat keluarga, komunikasi dengan tetangga di sekitar ligkungannya lewat pertemuan informal, seperti arisan dan pengajian, dan para siswa-siswi di tempat kerjanya, yaitu sekolah. Ia juga berjejaring dan membangun solidaritas bersama di kalangan perempuan serta memperkuat partisipasi politik perempuan dan melakukan advokasi kebijakan.

Buku ini merupakan catatan positif bagi perkembangan kiprah perempuan muslim di Indonesia dalam konteks keagamaan, dan oleh karena itu penting untuk diapresiasi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya, “ulama perempuan” masih sebatas gagasan yang mengawang, seiring dengan banyaknya perempuan yang memperdalam pendidikan keulamaan dan adanya pengakuan atas kemampuannya, ia masih bisa untuk diusahakan. Para kader ulama perempuan Rahima mengaku mendapatkan nilai tambah melalui PUP yang mereka ikuti, dari semakin tumbuhnya rasa percaya diri, penajaman perspektif, penebalan keilmuan, sampai pengorganisasian dan advokasi. Kehadiran dan catatan-catatan tentang mereka adalah harapan bagi terangnya sejarah Ulama Perempuan di Indonesia.



Selamat membaca!

Yogyakarta, 18 Agustus 2014

February 05, 2014

Vocabulary Learning Strategies

yang nulis isma di 12:36 PM 0 komentar
Since English is not my first language, I am challenging to memorize many English words and apply them in speaking and writing. I often get stuck both in speaking and writing because I have no sufficient vocabularies. Therefore, I think vocabularies are the most important part in learning language before any other parts such as learning grammar and idiom. In terms of learning vocabulary, normally I target myself to memorize five academic words every single reading. I focus on academic words because I need these words more than daily life words in order to understand a discussion in the class, read any reading materials, and write academic paper. Moreover, becoming a graduate student is demanding to be active in those three area activities.

In obtaining my target toward learning vocabularies, I apply four strategies. First, I highlight the words that I do not know the meaning. Normally I use color pen or pencil to mark the words on the readings. Second, I use dictionary to check the meaning, synonym, and some examples that show me how to apply the word in a sentence. Actually, this part takes time because I have to check the meaning one by one. Therefore, I only check the words that are positioned as important words in the reading. Then when I have time, I will look for the meaning of the rest of the words that I mark on the reading. Third, I write the words and the meanings on my book. This is a kind of small book dictionary I have. I have collected a hundred of academic words, but it does not necessarily mean that I can memorize all the words. I am still struggling to memorize and use them in speaking and writing.

I think these strategies work for me because my experience shows that my vocabularies are increasing. In comparison with my ability when first time I came to Hawaii, when I could not understand the reading at all, now I can read some difficult readings such as reading for cultural studies. Although I still find some difficult words, at least I can understand some parts of the reading. For example, reading about cultural theories is demanding my ability to understand some terms and the structure of sentence itself. The words “habitus”, “field”, and “capital” that suggested by Pierre Bourdeou have a certain definition that is more than what explained by dictionary. In this case, I use secondary reading material in my own language in order to give me a better understanding on the terms.

In addition, I think the more I talk to native friends or those who are not Indonesian, the more I can improve my vocabularies. It is possible because when I hear a new word that I am not familiar with, I ask her/him the meaning immediately. Indeed, the words are not categorized as academic words, but I can use them in speaking or understand other talks or speeches. However, sometimes I find the people also use academic words in speaking, and for me it becomes an easier way to understand and improve my vocabularies because listening is easier than reading and looking up to the dictionary by myself. Moreover, when I often hear the words used by my friends in our daily conversation.

I think vocabulary log that I did in our class is also helpful because I did many activities in one assignment. Not only marking the words and looking for the meanings, but I should guess the part of speech and the meaning firstly before using a dictionary. Indeed, sometimes I guess the meaning, but it is not often, and normally I do this for some words that are not important on the reading. For some important words, I go directly to the dictionary because I do not want to take time for guessing. Besides, I also learn how to apply the new words on my own sentences. It makes sense because it explains how I understand the meaning of the words.

In addition, for future plan regarding vocabularies learning, I am thinking to post the words on my room wall because it will be easier for me to remember. I may write the words down on a small piece of paper, and post it on any places that I mostly look at and stand in front of the wall for a while such as beside the mirror or my bed. While doing another thing, I can read the word and think about it. Actually I have seen my friends in Jakarta did the same thing, but I never applied this for myself. For me, posting the words is more readable than writing the words on my book dictionary. I realize it because I rarely open the book unless I need the words to write academic paper, and I need word help.

Using the words in academic speaking is also important in order to improve my vocabularies. This is the next plan that I would like to consider more. Firstly, I can practice using the words in speaking with my friends, and then in the class. For example, I can use the word “acknowledge” and “prominent” when I talk to my friends about career and future plan after graduation by saying: “I want to be a prominent writer in my country and people with acknowledge it.” By using the words in daily conversation, I will get used to apply them both in academic speaking and writing. And for sure, by the time my vocabularies will be dramatically increasing.

Note from Valerie: Great job! I’d like to be able to share your paper as an example for future students (without your name, of course) since you’ve clearly addressed each aspect of this assignment and used detailed examples. (haha)

July 01, 2012

Writing on Violence

yang nulis Isma Kazee di 5:14 AM 0 komentar
"Before we start walking, Comrade Venu comes up to me. “Okay then Comrade. I ‘ll take you leave.” I’am taken a back. He looks like a little mosquito in a woolen cap and chappals, surrounded by his guards, three women, three men. Heavily armed. "We are very grateful to you comrade, for coming all the way here." he says. Once again the handshake, the clenched fist. "Lal Salaam Comrade." He disappears into the forest, the Keeper of the Keys. And in a moment, it’s as though he was never here. I’m little bereft. But I have hours of recordings to listen to. And the days turn into weeks, I will meet many people who paint color and detail into the grid he drew for me. We begin to walk in the opposite direction. Comrade Raju, smelling of iodex from a mile off, says with a happy smile, "My knees are gone. I can only walk if I have had a fistful of painkillers." (p.28)

I have heard Arundaty Roy’s name before, but this is my first time reading her report. I really enjoy it. She is not only sharing the fact and resources, but also portraying the characterization, setting, movement, plot, feeling, and opinion. Reading her notes is like reading a history novel. From the detail of those characterizations and images, I think she succeed in demonstrating the painful and struggle that people, in particular women, are suffering in conflict region.

In Indonesia, we have many narratives on conflict and violence against women, for example the tragedy of May 11 in Jakarta in which many Chinese women were being raped. This was a shameful tragedy and has defaced women rights in Indonesia. However, the investigation on this tragedy does not recommend and give any results. I think if this ‘forgotten’ tragedy is rewritten and reported applied Roy’s method of writing, the report would remain effective to boost government’s will towards the investigation.

Source:
Arundhaty Roy, ‘Walking with the Comrades’.

June 29, 2012

Struggling from Big Corperation

yang nulis Isma Kazee di 5:09 AM 0 komentar
The idea of struggling from big corporations in this week reading reminds me on ecofeminism that was launched in 1974. Ecofeminism is a movement that concerns itself with environmental problems by using feminist intellectual and political perspectives in its analysis and practices. Ecofeminism attempts to establish a way of living in harmony that incorporates women, men, children, animals, and the environment by fighting against the social system and cultural values that oppress and dominate. Ecofeminists think that the earth, which is described as a mother, has been exploited, plundered, and destroyed by the ruling capitalist system to perpetuate patriarchy and feudalism. Women who have knowledge should take part in managing the environment and the sources of life.

Based on that, I would categorize Merima Mananta from Sorowako Sulawesi Indonesia as Indonesian ‘ecofeminist’. In her old age, she speaks out for her indigenous community, Karonsi'e Dongi, to reclaim the land of their ancestors that has been occupied by a Canadian nickel mining company, Inco. For her, the land where she lives is an entity, not a commodity that can be sold. In 1957, Merima and the other people in the village had to move from their land because of civil conflict, but when they wanted to go back, the company had occupied their land. In explaining how this mining company harms women, Merima said: "Our children are not able to go to school because parents cannot afford school fees. To feed our families, we women have planted vegetables and bananas around our huts. We can no longer grow rice because the land has been degraded. In 2003, the police and Inco security threatened to burn our huts because we were on ‘Inco land.’ Some of us were brought to the police station, interrogated and threatened with a three-month jail sentence.”

In Indonesia, there are many land issues that happen in the islands outside Java such as Sulawesi, Sumatra, and Kalimantan. People have to defend for their lands fighting against the existing capitalist company that are mostly supported by local governments.

Source:
link
Julia T. Wood, Gendered Lives, Communication, Gender and Culture.
________________________________________

June 25, 2012

Evaluating Gender Equality

yang nulis Isma Kazee di 5:07 AM 0 komentar
There is another way to evaluate gender equality in literature. There are several questions can be offered:

First, do societal gender expectations and stereotypes cause conflict or limit the character’s range of option? Second, does the character think critically to reconcile real experiences with gender expectations? Third, does the character demonstrate independence (from gender expectations) in making decisions? If so, does the character pay the social price? Fourth, does the character achieve acceptance from other characters and self? (Latrobe 2009: 192)

I think Sivina and Sugar Shirley can represent the characters that critically resolve real experiences with gender expectations. They are independent people, even being different from common characters. However, in the end, they are dead, and to me, it implies the expensive price that they should pay for their decision.


Source:
Latrobe, Kathy Howard, and Judy Drury. Critical Approaches to Young Adult Literature. New York: Neal-Schuman Publishers, 2009.
________________________________________

June 24, 2012

Girl Lessons

yang nulis Isma Kazee di 5:04 AM 0 komentar
Chapter “girl lessons” in Where We Once Belonged written by Sia Figiel has disturbed my mind. For example, “we girls were never allowed to go anywhere after schools besides heading straight home. Even when I started going to Samoa High School and had afternoon school or had detention or sports practice, I was expected to be home when everyone else was home” (p.139). It is unfair for Alofa and her friends since these rules are only regulated toward them, not boys. If boys are also restricted by these rules, they may grow and behave the same like girls. It means that boys and girls might stand equally. I think this may become a foundation of gendered violence in which institution such as family, media, language, and local culture normalize this violence.

Moreover when I read the subsequent pages when Alofa is being punished because she did not obey the rules, it clearly shows me that boys own their privilege to do anything they want without considering any punishment. "Before my hair was cut, before my hair was shaved, I was slapped in the face. Then a belt hit me across the face, too...around the waist, around my legs, around my face again. Fists blew in my eyes and mouth and cheeks, and blood flew out onto the cement floor" (p.220). Girls or women are always blamed for something that boys also get benefits.
_______________________________________

June 18, 2012

The Bechdel Test

yang nulis Isma Kazee di 5:02 AM 0 komentar
This is an interesting video I get from my class.
This video shows me how to review the present of women in the movie that is called by “The Bechdel Test”.

There are three questions to measure:
- Are there two or more women in it and do they have names?
- Do they talk to each other?
- Do they talk to each other about something other than a man?

I think this test is a simple way to see women representation in the movie. Because it is possible that women presence is actually being used by others for other purposes. Women are not portrayed as “Self”. So, the actor is actually a man, while a woman is a compliment.
_____________________________________

June 17, 2012

The Term 'Wanita' and 'Perempuan' in Bahasa

yang nulis Isma Kazee di 4:57 AM 0 komentar
I like the way Barlow trace the word Funu, Guojia, and Jiating which mean Chinese women, Chinese state, and Chinese family. It shows me that language actually reflects and reinforces our cultural values. Words or terms come with a certain history and changes of the meaning.

There are the word wanita and perempuan in Bahasa that mean woman. During Soeharto regime, wanita was commonly used rather than “perempuan”. The word wanita in the context of Javanese palace refers to tenderness, delicacy, modesty, obedience, dependence, and femininity. There is also common perception that explains the root of the word wanita. It is derived from Javanese language “wani” (willingness) and “ditoto” (being set up). Therefore, when gender equality movement emerges in Indonesia, activists deconstruct this word. Women activist insist the use of the word perempuan. Because etymologically, this word is derived from empu which means “master, those who have skill and power, leader, upstream, or the greatest.” Perempuan is also associated with ampu which means “support, govern, safety guard and guardian”. It is also said mengampu which means “hold and support for something else”.

Thus, although past time wanita was considered as having higher meaning that perempuan, now it is changed. Perempuan is more commonly used in Indonesia to refer to woman.

Source:
link
_________________________________________

June 13, 2012

Chicklit: a Writing Style on Life Stories

yang nulis Isma Kazee di 4:55 AM 0 komentar
In her chapter, Grewal writes that “Many life narratives have recently been published in First World locations that are authored by those from the so-called margins. Recent publications in the United States include, for instance, writing by women color, Asian immigrants telling their lives, memoirs, novel, short stories by minorities.” (p.232)

This passage reminds me on a new style of writing called Chick-lit. According to Chicklit.us (Ferriss 2006, 3), chick-lit “reflects the lives [of] everyday working young women and men, and appeals to readers who want to see their own lives in all the messy detail, reflected in fiction today.” I think this genre allows and gives women wider opportunity to write their life experiences through literature form. In Indonesian context, this genre has influenced the emergence of popular writing in the contemporary Indonesian literature written by Indonesian women writers. Helen Fielding’s Bridget Jones’s Diary published in Britain in 1999, was the first chick lit novel translated into Bahasa. In 2000, it was followed by the publication of The Girl’s Guide to Hunting and Fishing and Being Single and Happy written by Melissa Bank. These novels were translated into Bahasa as well.

However, since this genre is more addressed market readers, and tells about urban life styles, it seems that this genre is not academic enough to represent what is called “scholarly works” in comparison to memoir or autobiography. But, as a cultural production, I think some chick-lits may portray women identities and gender violence in the society.

Source:
Ferriss, Suzanne, and Mallory Young. Chick Lit: The New Woman’s Fiction. New York: Routledge, 2006.
_____________________________________

Simone de Beauvoir: The Independent Women

yang nulis Isma Kazee di 4:43 AM 0 komentar
I would like to share my note on Simone de Beauvoir’s idea on “woman”, as mentioned by Grewal in this week reading (p.243). In The Second Sex, de Beauvoir draws a feminist movement in which it addresses the inequality of men and the emancipation of women from sexist oppression. She points out the challenges and difficulties of the modern female gender role. According to her, patriarchal system is a cause of woman oppression. “She is not viewed by society in the same way; the universe presents itself to her in a different perspective. The fact of being a woman today poses peculiar problems for an independent human individual.” (339). Beauvoir explores how woman and femininity are constructed by culture that is men centered by giving examples. “Her clothes were originally intended to consign her impotence, and they have remained unserviceable, easily ruined: stocking get runs, shoes get down at the heel, light-colored blouses ...” (341). “Tradition also requires even the single woman to give some attention to her lodgings.” (341). These examples confirm, first, woman's body is the barrier to doing self-actualization. Thus woman cannot expand their subjectivity dimension to the world outside and her environment. Second, this culture has been socialized and internalized through social institutions such as families, communities, and also state.

Therefore, according to de Beauvoir, there are two main levels in order to emancipate woman: the level of thought and practice. At the level of thought, women's bodies should be exempt from the labels that are affixed by patriarchal culture and constraint her to the process of transcendence. Body, belonging to both women and men, is the situation; body is the subject of dialogue and interpretation between the number of values ​​offered by the social construction and the values ​​chosen autonomously (357). In addition, de Beauvoir also suggests changing the pattern of relationships between man and woman from the bondage of biological and functional to be humane and ethical relationship that is openly in the spirit of friendship and generosity (356). At the level of practice, de Beauvoir proposes the importance of economic independence as a door opener for the liberation (338).

Souces:
Simone de Beauvoir, "The Independent Women" in Simon During (ed.), The Cultural Studies Reader, 1st edition
__________________________________________

June 04, 2012

Imagined Communities

yang nulis Isma Kazee di 4:39 AM 0 komentar
I would like to post my note on Imagined Communities written by Benedict R.O Anderson. Based on his field work in Indonesia and other countries in Southeast Asia, Anderson figures out the genesis of nationalism and explains the concept in adequate way. The aim of writing Imagined Communities is to suggest a historical background including the development, evolution, and response for the emergence of nationalism. This book is actually his notorious examination of nationalism. Several chapters in the beginning attempt to connect nationalism and the context in the frame of history. According to Anderson, the nation is an "imagined political community that is imagined as both inherently limited and sovereign" (p.7). The nation is imagined because members might be not familiar each other or with the most of their colleague, but in the mind of each the members there is an imagination of their unity (p.6). This is the way the owner of a particular citizenship imagines the boundaries of a nation, although such boundaries may be not existent physically.

The nation is limited because "even the largest of them encompassing perhaps a billion living human beings, has finite, if elastic, boundaries, beyond which lie other nations" (p7). Although it is limited by boundaries, in fact they can identify their unity by the existent of culture, ethnicity, language, discourse, and social structure among fellow members. The nations is sovereign because "the concept was born in an age in which Enlightenment and Revolution were destroying the legitimacy of the divinely-ordained, hierarchical dynastic realm . . . nations dream of being free, and, if under God, directly so" (p.7). The nation is a community because it is "always conceived as a deep, horizontal comradeship" (p.7). Although there are the differences and unequal positions and changes among the nation member, the imagination in being the same culture, ethnic, or social structure is physically powerful to initiate people to sacrifice in the name of nation.

I think nationalism now becomes a core issue in many aspects of modern society and united nation where the conflict among sub-nations such as ethnicity, group, and culture tend to emerge. Moreover, people are mostly traveling from one and another country or even their national identities are interchangeable.

Source:
Ben Anderson, Imagined Communities (Verso: New York, 2006).
_____________________________________

June 03, 2012

The Female Body and the Narratives

yang nulis Isma Kazee di 4:28 AM 0 komentar
I like reading Liu’s essay which is about the female body and nationalism. It gives me idea how a female body can be connected to nationalism, particularly, during revolution. I think her method of analysis is useful to be employed while reading such novels in Bahasa, such as Gadis Pantai (the bay girl) written by Pramodya Ananta Toer. This novel tells about the oppressed woman who has to be married by a governor in order to bore his child. This novel attempts to criticize the social class during Dutch colonization in Indonesia.

A critical perspective is needed to discover how the author symbolizes female body in regard to revolution. Before reading Liu’s piece, I did not think about the symbolic meaning of “raped women”. It seems like she is a heroine who scarifies her body for her nation. But, after reading it, I understand that we should analyze deeply by questioning whether women have decision in define her body or not, because, it can be fallen to the meaning that actually the author uses the portrayal of “raped women” to romanticize and build a dramatic sense of the revolution.

Another essay is written by Alcarón, but I feel difficult to follow because I have no idea about the history of Mexico or Malintzin. But I agree that we also should deconstruct narratives that seem “pure and authentic” regarding the history of women. Those textual or oral narratives with their power and position often control human freedom to think and innovate. It is similar with some interpretations toward religious texts in which sometimes, in Muslim case, those interpretations become more powerful that the religious text itself

Sources:
Norma Alcaron, “Traddutora, Traiditora”
Lydia Liu, “The Female Body and Nationalist Discourse: The Field of Life and Death Revisited”
Mary Layoun, “The Female Body and 'Transnational' Reproduction; or, Rape by Any Other Name?"

_____________________

May 27, 2012

Politics of Location

yang nulis Isma Kazee di 4:26 AM 0 komentar
Reading Kaplan's essay is challenging. This is the most difficult article assigned thin week. Because, first, I have to understand the idea of a “politics of location” which seems too philosophic, and second, I have to follow Kaplan’s writing in describing many different interpretations regarding a “politics of location”. However, after reading it, I can understand, at least, the idea of a “politics of location” that considers the connection between one identity and social, geographical, and historical location. For example, understanding the importance and the history of a place is connected to people’s ideas about land, what they wear, and movement.

I can see how this term is applicable in Farzanna Haniffa (2008) article titled Piety as Politics amongst Muslim Women in Contemporary Sri Lanka. The article give me general understanding that discussing about Islam and Muslim identity as an individual is not only related to the idea of being a pious Muslim in relation to other Muslims in the society. But also, this identity is associated with communal identity in conducting a community movement that deal with social, cultural, economical, and political problems. In addition, the identity formation is changing coinciding with the dynamic of personal and social experience levels. In order to spread their identity and position their existent in struggling for meaning in a wider field, Muslims use media and cultural representation to voice what they are arguing and working, such as clothes, music, and literary works. Therefore, in understanding any identity representations and social movements, social, cultural, economical, and political background should be taken into account.

Haniffa (2008) portrayed how Muslim women of Al Muslimaat shape their identities as good Muslim selfhood, and elaborated the methods they employ to preserve “certain gender and ethnic power balances” for carrying out da’wa (preaching) activities. He also has analyzed how gender identity is being formed to emphasize the movement of Al Muslimaat as a women’s da’wa group in the center of a number of social group led mostly by male leader (p.348). Al Muslimaat is a women’s activity that mobilize Muslim housewives in the semi-urban Colombo neighbourhood of Dehiwela (p.356). According to Al Muslimaat, the piety that is represented by wearing hijab and the abhaya must be accomplished by “learning the rules of proper practice, unlearning what was considered orthodoxy under a different regime of knowledge, and conveying that knowledge to one’s family and peers in a manner that maintains community networks and does not unduly disturb gender norms” (p.358). From this example I can see how one identity has close connection to the place located.


Sources:
Haniffa, Farzana. "Piety as Politics Amongst Muslim Women in Contemporary Sri Lanka." Modern Asian Studies 42, no. 2/3, Islam in South Asia (2008): 347-75.
Chandra Talpade Mohanty, “Under Western Eyes”
Grewal and Kaplan, "Introduction: Transnational Feminist Practices and Questions of Postmodernity" in Scattered Hegemonies.
Karen Caplan, “Politics of Location as Transnational Practice” in Scattered Hegemonies.


_____________________________________

January 30, 2012

Conversation
in the Thanksgiving Dinner

yang nulis isma di 11:30 AM 1 komentar
Hymes states that, “The interaction of language with social life is viewed as first of all matter of human action” (1974: 45). It means that the primary function of language is its use in social communication. According to Hymes (1974: 55), setting that is spatial and temporal dimension of a speech act and physical situation is an element of speech. However, cultural meaning influences the significance of setting; therefore physical circumstances and the “psychological setting” or scene should be counted. There is reciprocal connection between psychological setting and speech community as they determine one and another.

Hymes also positions the language in the conversation as a system in which it consists of a bounded element that connects and explains one and another. There are three elements in a social conversation which are speech communication, speech events, and speech acts. All these elements are called the hierarchy of conversation elements. Hymes (1974: 51) defines speech community as a group of people who participate in the conversation and they have a common knowledge about the rules to conduct and interpret the speech. People can understand the speech relaying on the context of speech event, such as party, wedding, fight, and seminar. The speech activities with their norms on the speech situation called speech event (Hymes, 1974: 52). Then, a certain kind of speech with its norms fixed on the speech event called speech act.

Basing Hymes’ idea, I will describe the use of language in a thanksgiving dinner in one community. Thus, in this essay I want to answer three questions which are: what kind of speech event is the thanksgiving? What community do they participate in the thanksgiving dinner? What speech act does come up in the thanksgiving dinner conversation?

Findings

Speech Community and Speech Event

There was a thanksgiving dinner, initiated by Jim and Laurie, a couple who involve with international student community. This thanksgiving dinner was a regular thanksgiving dinner when people get together with their family, expressing their thankful to the God and enjoying love and care. As said by Jim, the purpose of the dinner was to provide a home and a family where the international students can celebrate and feel love and care like what people experience in the US during thanksgiving. Thus, it can be said that the thanksgiving dinner that I attended was a kind of family gathering to celebrate thanksgiving moment. However, we were not a real family like our family in our home countries. This family was spatial and temporary, made by Jim and Laurie and for a certain purpose.

So, first of all, Jim and Laurie sent the students of East West Center an invitation to come to their house for thanksgiving celebration. They required the students to register first since the space available was limited. There were 10 students who registered, including me. I knew four of us, two were from Indonesia and another was from Japan. The remain students, I meet them several times since we live in the same dormitory, but I do not know their names. One of them was from China, another was from Iraq, and the rest of them were from Vietnam. So, we came from different countries and cultures, and spoke different languages. There were only two things that make us similar, which were the same purpose to celebrate thanksgiving and we used the same language, English, in the event. We left Hale Manoa lobby at 6.30 PM by Jim and Laurie’s car.

Speech Acts
There was several speech acts presented in the thanksgiving dinner:

1. Greetings
I remember first time when I and my friends met Jim in the lobby, most of us said, “Thank you for inviting.” When we just reached Jim’s house, one of us repeated this greeting by saying, “Thank you for driving.” Similarly, when one friend of mine gave Laurie a bag of apple, Laurie said, “Thank you so much.” This sentence was being repeated during the event, for example, when I helped Laurie to pour apple juice into plastic cup, she said, “Great. Thank you.” And, lastly when we finished the dinner, Jim and Laurie said, “Thank you for coming,” while all of the students replied by saying, “Thank you for organizing this dinner.”

As I noticed, “thank you” can emerge many times in the same event, but I think that the particular purpose or meaning of thankful’ utterance was determined by the situations and the personal intention. For example, a greeting such as “thank you for inviting” could be a repetition because for sure we already mentioned it when we replied Jim’s email. For other students the greeting might emphasize that they were happy to have dinner or it could be a polite way to start a conversation since they never known and met Jim before. So, from this speech I can say that the meaning of speech acts may be determined by physical circumstances and the psychological setting or scene.

Another greeting that I noticed is “happy thanksgiving” accompanying with shaking hand or hugging. This greeting closely related to the speech event which is thanksgiving dinner in Jim’s house. This greeting may stand for thanksgiving celebration as well as turkey and pumpkin. When people say “happy thanksgiving” and give us turkey and pumpkin, we can easily notice that we are in the thanksgiving moment. To me who live in Indonesia, we have no thanksgiving; even I never ate turkey before. But, in the US turkey is a sign that means thanksgiving meal.

2. Prayer
This prayer is kind of thankful words to God for everything we get and for the blessing. We were standing circularly around the tables and Jim led the prayer before we had dinner. The prayer word was similar with the prayer that I heard last year when I had thanksgiving dinner in another host family. However, before praying, Jim explained about the purpose of the prayer and in what way he would pray. Since he knew that four of us are Moslem, but he would pray in Christian. “Hope you can understand that I use the way Christian people pray,” he said. I think by saying it in the beginning, Jim attempted to make our gathering appropriate for multicultural and multi-religion understanding. The prayer itself is sign of religion and belief because as a Moslem I have different words to say when I am praying. The prayer also stands for thanksgiving prayer meaning that people will pray the same words when they have thanksgiving celebration.

3. Self Story-Telling
In this event, we were divided into two different tables. One table was with Jim, and another was with Laurie. I had a sit in the same table with Laurie. She talked to us one by one by asking about our activities, focus of study, the place where we come from, and our works. When one of us was being asked, other students were listening and some time get involved in the conversation by asking or adding information. For example, when my friend, Surmi was asked about different types of schooling in Indonesia, I added, “In terms of tuition, private school is more expensive because our government does not provide fund for them.” In this part, I noticed that we took turn to speak politely. We waited for the person who spoke to finish his/her speech fist then another person took his/her turn. I think because we were not so close, so people tend to maintain their politeness instead of doing something that make other feel disappointed or bad. The same thing when Jim took his turn to speak with those who sit in my table. It would be different if we had dinner with our close friends, turn taking in speech would be overlapping. We would not consider other’s feeling and to be polite. Thus, it shows that speech acts is determined by psychological setting and the sender.

4. Singing
In the mid of dinner, Jim took ukulele and gave us a collection of Hawaian song. One of us teased another friend, “Jim, she wanted to play the ukulele.” However Bhen, the lady’s name, did not know how to play ukulele. “No, I cannot play ukulele,” she replied immediately with laughing. Then, Jim played ukulele and we sang together by looking at the song collection. I think by singing, I feel closer to the environment. Song can present the feeling of togetherness, care, and love in the situation and people which I never had before.

5. Joke
Another speech act that I think can show the connection between speech community and psychological setting is joke. Because we were not so close one and another, and came from different countries and background, we did not have much joke presented. One of the jokes that I remember was a speech act spoken by Jim when Surmi introduced her name. So, Surmi’s full name is Surmiyati, and she does not have any family names. “I often have problem because of my name, because you know, family name is the US is important. When I submit any documents, they always ask my family name. That’s way some time I put my father’s name which is Sulaiman as my family name, or Surmiyati Surmiyati, or NFN Surmiyati.” There is a funny story regarding her name when she applied visa in US embassy in Indonesia. They put Jakarta which is Indonesian capital city as her family name. Subsequently we laughed because of Surmi’s story. Then, Jim said, “Well, you were in the US, you will be very famous because famous people only have one name. Like nobody knows what Madonna’s last name is. Only one name, so when you are famous in America you only use one name.” And, we all laughed.

Conclusion
Based on the description, it let me conclude that there is reciprocal connection between speech acts, speech event, and speech community. Particularly, speech acts presented in the dinner which are greeting, prayer, self story-telling, singing, and joke, are determined by the element of speech, such as the speaker, the setting, and the message content. So, it means that language with its function for social communication does not appear with empty circumstances but it is influenced and determined by what is ongoing in there.

Reference: Hymes, Dell. 1974. Foundations in Sociolinguistics. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

October 30, 2009

“Men are from Mars-Women are from Venus”

yang nulis isma di 12:16 PM 0 komentar
Egoisme adalah salah satu sifat bawaan lahir manusia yang memang dipunyai oleh semua orang, namun bagaimana proses mengatur ego itu yang menjadi permasalahan sekarang. Pun begitu dengan hubungan sepasang kekasih atau keluarga dalam rumah tangga. Dalam rumah tangga yang harmonis masing-masing pihak yaitu suami atau istri dapat menghargai satu sama lain artinya mereka dapat menerima perbedaan-perbedaan yang pada intinya adalah dapat mengatur ego masing-masing. Kalau sama-sama keras kepala ( stubborn ) yang ada diantara pasangan tersebut ketidakcocokan, pertengkaran bahkan perceraian yang akan terjadi. Seringkali kita mendengar proses perceraian dalam rumah tangga disebabkan oleh hal yang sangat sepele, misal istri tidak pengertian, suami sering pulang terlambat atau hal-hal lain yang sebetulnya tidak prinsip. Dari hal-hal kecil tersebut kalau tidak diantisipasi sedini mungkin akan berakibat fatal. Apabila laki-laki dan perempuan sanggup menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan mereka, cinta mempunyai peluang untuk tumbuh berkembang secara abadi dalam setiap pasangan-pasangan yang ada. Melalui pemahaman akan perbedaan-perbedaan lawan jenis yang tersembunyi, kita lebih dapat berhasil memberi dan menerima cinta yang ada dalam hati kita.

Ketika kita berbicara karakter laki-laki, terkadang ada hal-hal aneh yang tidak dimengerti oleh perempuan. Kehidupan orang-orang Mars ( kaum lelaki ) yang menghargai kekuasaan, ketrampilan, efisiensi dan prestasi. Sehingga keilmuan, kekuatan, kecerdasan, eksistensi diri menjadi simbol dari "kekuatan laki-laki". Tanpa hal itu yang dimiliki oleh makhluk dari Mars akan sulit rasanya untuk berbangga diri apalagi kalau dilakukan didepan makhluk dari Venus. ya memang itulah karakter orang-orang Mars yang identik dengan kekuatan dan rasio. Pemahaman atas sifat khas orang Mars ini dapat menolong kaum perempuan untuk memahami mengapa kaum laki-laki sangat tak suka koreksi atau diberitahu apa yang harus dilakukannya. Menawarkan nasihat yang tidak diinginkan kepada laki-laki sama dengan menganggap ia tak tahu apa yang mesti dilakukan atau bahwa ia tak dapat melakukannya sendiri. Kaum laki-laki sangat sensitif dalam hal ini, sebab masalah keahlian sangat penting baginya. karena ingin menangani kesulitan-kesulitannya sendiriian, penduduk Mars jarang membicarakan masalah-masalahnya, kecuali jika ia membutuhkan nasihat ahli.

Apa yang terjadi di Venus yang identik dengan perasaan,emosi, kelemahlembutan kontras sekali dengan apa yang terjadi di Mars. Penduduk Venus mempunyai nilai yang berbeda dengan Mars. Kedamaian, rasa cinta, saling tolong menolong hidup penuh dengan keselarasan dan keseimbangan sangat diharapkan oleh para penghuni planet ini. Orang-orang Venus sangat intuitif. Mereka telah mengembangkan kemampuan itu karena berabad-abad lamanya untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan orang lain. Mereka membanggakan diri karena memperhatikan kebutuhan dan perasaan-perasaan orang lain. Tanda cinta yang besar ialah menawarkan bantuan dan kerjasama dengan penduduk Venus yang lain tanpa diminta.

Perempuan itu perlu menerima: perhatian, pengertian, hormat, kesetiaan, penegasan, dan jaminan. Laki-laki perlu menerima: kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan, dan dorongan.

* dari resensi buku karya John Gray, Ph.D

May 19, 2009

Mencari-Cari Penulis Perempuan Pesantren

yang nulis isma di 12:14 PM 2 komentar
Oleh: Nor Ismah*

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang sahabat saya, “Ada nggak, Ibu Nyai yang juga seorang penulis?” Sahabat saya itu menjawab, “Ada. Nihayatul Wafiroh.” Tentu saja jawaban itu membuat saya terbahak karena dia menyebut namanya sendiri. Narsis, tapi memang beralasan karena tulisan dia paling tidak pernah dimuat di Kompas dan beberapa media nasional yang lain, dan dia memang seorang Ibu Nyai. Lalu, saya kembali bertanya, “Maksudku yang satu generasi dengan Ahmad Tohari atau Gus Mus?” Kali ini dia balik tertawa, berpikir sejenak, dan lalu menjawab, “Kalau itu sih, kayaknya tidak ada.”

Lalu, iseng-iseng saya coba membuka buku antologi puisi Risalah Badai yang terbit pada tahun 1995. Di antara 12 penulis yang masuk dalam antologi itu, hanya ada 3 penyair perempuan. Sama halnya ketika saya membuka buku Lirik Lereng Merapi yang terbit tahun 2001, dari 32 penyair hanya ada 9 penyair perempuan yang ikut menyumbangkan karya dalam buku antologi puisi itu. Meskipun dua buku tersebut tidak secara khusus memuat puisi tentang pesantren atau para penyair pesantren, paling tidak secara kasatmata bisa menunjukkan bahwa penulis, penyair, dan sastrawan perempuan memang lebih sedikit dibanding laki-laki, lebih-lebih jika perbandingan itu ditarik ke wilayah yang lebih spesifik, yaitu pesantren.

Perempuan Menulis: Beberapa Persoalan
Menulis bukan hal baru bagi pesantren. Kita mengenal nama-nama seperti Kiai Nawawi al-Bantani dan Kiai Jampes yang banyak menulis kitab dan dikaji di pesantren-pesantren hingga saat ini. Pengkajian kitab kuning dengan model maknani juga bisa menjadi contoh sederhana dari tradisi tulis di kalangan santri, baik santri putera maupun santri puteri, mengimbangi tradisi lisan yang bersifat hafalan dan retoris. Namun, tradisi itu belumlah cukup untuk menumbuhsuburkan lahirnya para penulis pesantren, lebih-lebih penulis perempuan.

Menjadi penulis bagi perempuan memang bukan hal yang mudah. Pertama, karena perempuan adalah “produk” dari sebuah budaya yang dalam satu sisi memberikan banyak “keistimewaan” pada laki-laki. Keistimewaan ini membentuk dengan sendirinya model dunia perempuan dan laki-laki secara berbeda berdasarkan budaya. Terutama yang berkaitan dengan wilayah publik. Ada macam-macam aturan budaya bagi jenis perempuan yang pada akhirnya membentuk kecenderungan perempuan yang pasif. Sedangkan laki-laki terbentuk menjadi pribadi yang agresif dan kuat.

Meskipun santri putera dan santri puteri sama-sama harus mematuhi seperangkat peraturan, karena jiwa agresif dan kuat khas laki-laki memungkinkan santri putera untuk melakukan “pemberontakan”, mbeling, demi meluluskan keinginan dan obsesinya. Beberapa kelonggaran untuk akses keluar juga lebih banyak berpihak pada santri putera. Misalnya, untuk wawancara dengan nara sumber, santri putera bisa keluar dari batas wilayah pesantren. Sementara, bagi santri puteri, sebisa mungkin sumber informasi didapat dari nara sumber yang tinggal di wilayah pesantren.

Dalam proses selanjutnya, ketika santri puteri sudah menahbiskan diri sebagai penulis, bukan hal yang mudah juga untuk menjaga kontinuitas kepenulisannya, apalagi jika dia sudah punya tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Menulis adalah soal waktu dan kebiasaan. Soal kemauan dan keseriusan. Anggapan bahwa menulis adalah hobi dikalahkan oleh tanggung jawab sebagai istri dan ibu, bukan mengompromikan antara keduanya. Kondisi ini sering kali membuat proses kreatif terhambat dan mandeg.

Persoalan ini tentu saja tidak dihadapi oleh penulis laki-laki. Ia mendapat keistimewaan sebagai melaksanakan kewajiban keluarga dengan menulis dan banyak berkiprah ke ranah publik. Di dalam keluarga, begadang sampai malam untuk menulis bukanlah suatu persoalan bagi penulis laki-laki, namun sebaliknya bagi penulis perempuan. Karena budaya melabelkan tugas meninabobokan anak sebagai tanggung jawab perempuan. Praktis tak ada waktu yang tersisa.

Tak heran jika proses kreatif itu kemudian terhenti. Meskipun sebenarnya potensi kepenulisan santri puteri tidaklah kalah dibanding santri putera. Contoh konkret adalah buku kumpulan cerpen Menjadi Bidadari yang diterbitkan Matapena tahun 2008. Di antara 6 penulis dari PP Langitan itu, 4 orang adalah penulis perempuan. Dalam beberapa kali roadshow yang dilakukan oleh Matapena, antisiasme santri puteri juga justru lebih banyak dibanding santri putera, apalagi yang kaitannya dengan penulisan fiksi.

Kedua, persoalan publikasi media yang tidak selalu memihak pada tulisan perempuan. Ada sementara anggapan yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan perempuan adalah karya yang kurang penting, populer dan tidak bertahan lama. Cengeng dan tidak berbobot seperti tulisan laki-laki. Lagi-lagi, karena kanon kritik dibuat dan dirumuskan oleh laki-laki. Atau, bisa jadi sebenarnya banyak karya yang sudah ditulis oleh penulis perempuan pesantren, namun karya itu dibiarkan untuk tidak dipublikasikan sehingga luput dari pengamatan para kritikus ataupun pemerhati sastra dan buku.

Dan, marginalisasi ini tidak hanya disebabkan oleh karena mereka perempuan, tetapi juga karena mereka berasal dari pesantren; satu wilayah yang sementara ini masih marginal. Kecenderungan media atau penerbitan yang pro pasar tentu akan berpikir seribu kali untuk menerbitkan tulisan tentang remah-remah kehidupan pesantren. Contoh sederhana adalah tulisan tentang pengalaman hidup remaja santri. Ini adalah bagian cerita yang tidak laku dan populer. Berbeda dengan kehidupan remaja yang metropolis dan gaul yang banyak ditulis dan tersebar di pasaran.

Perempuan Menulis: Tak Ada Waktu untuk Menunggu
Tanpa bermaksud membuat separatisme antara penulis laki-laki dan perempuan, perempuan juga mempunyai tanggung jawab untuk menuliskan “sejarah kehidupan”-nya sendiri. Sebuah tulisan dalam bentuk yang sederhana tetap akan menjadi catatan yang merekam peristiwa pada zamannya. Helena Cixous menulis, “I shall speak about women’s writing. Woman must write herself… Woman must put herself into the text—as into the world and into history—by her own.”

Banyak tokoh perempuan pesantren yang berperan besar dalam kondisi krisis. Mereka bisa tampil di baris paling depan, punya inisiatif dan keberanian mengambil resiko, punya sikap tegas, dan keyakinan diri, bermental perintis dan pendobrak. Sebut saja Nyai Solichah A. Wahid Hasyim (alm), ibunda Gus Dur. Namun, tanpa catatan dan tulisan, sejarah ini akan menguap tak terlacak.

Begitupun dengan banyak perubahan yang terjadi di pesantren, terutama pesantren puteri. Ambil contoh kebijakan memakai jilbab tahun 90-an, menggantikan kerudung segitiga untuk berkegiatan di dalam pesantren. Proses perubahan ini tentu tidak muncul dengan tanpa sebab dan keterpengaruhan pada perubahan sosial yang terjadi di luar pesantren. Di sinilah penulis perempuan memiliki andil untuk menuliskan, karena perubahan ini berkaitan erat dengan perempuan.

Menulis bukan sekadar bermain kata dan bahasa, melainkan juga gagasan dan perspektif. Persoalan perempuan akan lebih tajam jika dilihat dengan melibatkan perspektif perempuan. Sudah banyak persoalan dan tema tulisan yang ditulis dengan perspektif laki-laki, terutama soal tafsir ajaran agama. Peran-peran besar Ibu Nyai di dalam pesantren juga terkesan biasa-biasa saja dan sebatas melengkapi karena sejarah yang dituliskan tidak berperspektif perempuan.

Menurut saya, sudah tak ada lagi waktu untuk menunggu lahirnya para penulis perempuan dari pesantren yang menulis tentang perempuan yang berperspektif perempuan. Ibu Nyai yang penulis juga akan sangat berpengaruh di kalangan santri sebagai figure yang bisa memberikan semangat dalam kepenulisan. Selain, memberikan “perspektif lain” dalam setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan potensi santri.

Lahirnya komunitas-komunitas kepenulisan di pesantren bisa menjadi “sekolah alternatif” untuk para santri berproses dalam kepenulisan. Tinggal bagaimana kemudian akses dan kesempatan yang diberikan tidak berpihak sebelah. Penulis perempuan juga bisa mendapatkan akses dan kesempatan yang sama untuk mengeksplorasi potensi mereka masing-masing. Kelompok-kelompok itu juga bisa menjadi gerakan yang massif untuk mempublikasikan karya sehingga bisa diperhitungkan di ranah publik.

Dan endingnya adalah dalam satu tahun yang akan datang, saya tidak perlu lagi bertanya pada Nihayatul Wafiroh untuk menemukan nama Ibu Nyai yang penulis. Saya cukup membaca tulisan itu, entah dalam bentuk seperti apa. Yang pasti sebuah catatan, bahwa di antara celah-celah ketertutupan pesantren, ada Ibu Nyai yang menuliskan setiap perubahan dan pergolakan di dalamnya dengan perspektif perempuan.

#dimuat di majalah Kakilangit Pesantren Langitan Tuban edisi April-Mei 2009

July 03, 2008

Liburan Sastra di Pesantren....
By Komunitas Matapena

yang nulis isma di 9:27 AM 0 komentar
Dalam rangka mengasah skill writing dan apresiasi sastra di kalangan remaja, Komunitas matapena bakal menggelar kegiatan “Liburan Sastra di Pesantren” pada Kamis-Sabtu, 10-12 Juli 2008. Ini adalah pelatihan sastra yang dikemas dengan nuansa liburan, meliputi teknik penulisan dan apresiasi puisi, cerpen, novel, dan drama. Dengan metode fasilitasi dan memanfaatkan potensi alam dan lokal.

Eh, tapi apa asyiknya sih berlibur di Pesantren?
Jangan salah sangka dulu, kawan. Pesantren yang ini dijamin tak kalah asyik dibanding tempat-tempat lain sejenis bumi perkemahan. Namanya Pesantren Kali Opak LKiS Yoyakarta. Lokasinya persis di pinggiran Kali Opak yang memanjang di kawasan timur Jogja. Berdampingan dengan bukit Bangkel yang pas banget buat para pencari ide dan gagasan. Apalagi di saat pagi dan sore. Dalam kegiatan ini kamu akan diajak menelusuri keindahan alam khas Kali Opak dan Bukit Bakel.


Nggak cuma itu, liburan kali ini dijamin unik karena ada proses bersastra. Belajar dari pengalaman para penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama, juga aktor teater nasional. Ada Gus Mus*, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Jadul Maula, Evi dawati, Jony Aryadinata, dan Kajay Habib. Ditemani oleh para penulis novel Matapena, ada Isma Kazee, Mahbub Djamaluddin, Shachree M Daroini, Zaki Zarung, Pijer Sri Laswiji, Ruslan Ghofur, Ully Maftuhah, S. Tiny, Hilma Anis, dan Camilla Hisni.

Dan yang nggak kalah penting adalah berkarya. Siapa bilang yang bisa berkarya hanya para sastrawan atau penyair ternama. Setiap isi kepala dan hati adalah sumber karya, dan nggak ada alasan untuk membiarkannya beku lalu mati tanpa diwujudkan dalam karya. Kamu bisa pilih, antara apresiasi puisi, cerpen atau novel, naskah drama atau melakonkannya. Muntahkan semua kreativitas teman-teman dalam malam puncak, festival sastra dan teater. Yang juga akan dimeriahkan oleh pentas wayang multimedia Kajay Habib, pentas teater oleh Komunitas Sangkal, dan orasi budaya dan pembacaan puisi oleh Gus Mus * dan D. Zawawi Imron.

Jadi, tunggu apa lagi…

Catat ya syarat pendaftarannya
Peserta adalah pelajar, mahasiswa, dan umum, usia 15-23 tahun
Mengisi formulir pendaftaran
Membayar kontribusi peserta
Bersedia tinggal di lokasi selama kegiatan
Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat panitia, Komunitas Matapena Jl Parangtritis Km, 4,4 Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul Jogjakarta. Atau melalui rekening Bank BCA Katamso A/C: 445.049.8691 a/n: PT LKiS Pelangi Aksara
Segera konfirmasikan keikutsertaan kamu via email: matapena_jogja@yahoo.com atau Hp: 08562893044 / 08157970372.
Download Formulir Pendaftaran klik disini
Sampai jumpa ya….

April 02, 2007

Menelusuri Lokalitas Pesantren

yang nulis Isma Kazee di 5:01 PM 0 komentar



Nur Ismah,
Manajer Matapena



Kiprah perempuan mungil itu memang tidak bisa dipisahkan dari teenlit (teen literature) pesantren atau yang kadang disebut novel pop pesantren. Nur Ismah, nama perempuan kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 23 Desember 1978 ini, adalah Manajer Matapena, sebuah divisi di penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta.

Matapena khusus menerbitkan karya-karya sastra remaja dari kalangan pesantren dan bercerita tentang remaja pesantren. Namun Ismah bukan sekadar manajer. Penulis dengan nama pena Isma Kazee ini, telah membesut dua teenlit pesantren yaitu Jerawat Santri (2006) dan Ja’a Jutek (2007).

Pesantren memang bukan dunia asing bagi Ismah. Pahit manisnya masih membekas hingga sekarang. Maklum, ia menghabiskan tujuh tahun masa remajanya di Pesantren Putri Al-Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Selepas dari pesantren, Ismah hengkah ke Yogyakarta dan mengambil kuliah di Jurusan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga. Kegiatan menulis yang ia pupuk sejak nyantri dan keterlibatannya dalam dunia pers mahasiswa, mengantar Ismah ke dunia kini.

Ismah punya alasan kenapa harus membesarkan teenlit pesantren. “Selain ingin menandingi gaya hidup remaja perkotaan yang ditawarkan teenlit pada umumnya, juga ingin menunjukkan Islam pesantren yang membumi.”

Hal itu ia tunjukkan dalam karyanya. Tengok saja Jerawat Santri. Di situ ada tokoh Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi berdasarkan kaca mata fikih dan psikologi sosial kepada yuniornya, Una.

Contoh lain bisa disimak dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006). Di sana, ada episode ketika tokoh Rara menyatakan poligami. Untuk itu, Rara membantah dan mendebat para senior yang disebutnya sebagai kalangan dombor. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta remaja toh?” kilah Nur Ismah.

Ismah menambahkan, ada kisah tentang kearifah Mbah Malaluddin Rumi, dalam Tarian Cinta karya Maia Rosyida. Pesan pokoknya: tak serta-merta memfatwa haram tarian Dahlia yang mirip Toxic-nya penyanyi tenar Britney-Spears. “Kalau novel lain, hal itu pasti haram,” kata Ismah.

Namun dalam cara berbicara, hobi, pakaian, selera musik dan film, jelas Ismah, teenlit pesantren tetap mengikuti pakem zamannya. “Remaja di mana pun, kini memiliki kultur gaul yang pada dasarnya adalah kultur global atau kultur MTV. Televisi jelas menjadi ‘imam’ dari kultur ini,” kata Ismah.

Karena itu, ujar Ismah, banyak orang menilai teenlit pesantren tak beda dengan teenlit pada umumnya. Bahkan dituding tak punya ciri khas. “Penilain ini kalau semata melihat kemasannya,” kata mantan reporter majalah perempuan dan anak MITRA YKF-LKPSM Yogyakarta ini.

Tapi jika ditelesik, kata Ismah, ada ciri khas dalam teenlit pesantren. “Ada semacam pandangan khas pesantren yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelasnya.

Banyak tradisi pesantren yang belum diolah jadi cerita. Sebab itu, Ismah yakin bahwa tema-tema pesantren tidak akan pernah habis digali. “Pesantren seperti juga etnik, memiliki lokalitasnya sendiri. Nah, lokalitas-lokalitas itulah yang akan terus kita telusuri.”

*Dimuat di Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007
 

Isma Kazee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea