November 10, 2018

sore abu-abu

yang nulis Isma Kazee di 10:38 AM 0 komentar
usai aku bertemu supervisors, perasaanku jadi abu-abu. antara senang dan sedih. antara lega dan mengganjal. antara pasti dan ragu-ragu. alhasil, wajahku sumringah tapi batinku hambar tak jelas.

seperti sudah sering aku ceritakan, kedua pembimbingku itu baik semuanya. mereka peduli dan responsive, saat aku melambaikan tangan. akunya saja yang tidak mau cepat bekerja dan suka menunda-nunda. biasanya karena bingung duluan, akhirnya malas dan tidak produktif.

sore itu kami ada janji ketemu, membahas chapter 3 yang aku kirim awal oktober. seperti biasa, sore akan ketemuan, tapi sejak sehari sebelumnya dadaku sudah berlompatan. tanganku sudah menggenggam beku. tak tenang tidur, juga makan (ha ha hiperbola banget ya). tapi, beneran. dan aku benci sekali situasi ini.

aku mengetuk pintu kantor pembimbing pertamaku, tapi yang membukakan pintu malah pembimbing kedua. mereka butuh waktu lima menit untuk melanjutkan diskusi. meski aku tahu mereka nggak akan membantaiku, lompatan di dadaku semakin menggila. dan ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka, pembimbing pertamaku mengajakku masuk.

dan jeng jeng jeng ...

kalau saja aku nggak ada pengalaman kuliah di hawaii, mungkin aku nggak akan sesantai sore itu mendengarkan masukan dan hasil bacaan mereka atas chapterku. komentar mereka, mungkin bagi mereka akan membuatku merasa terintimidasi, tapi tidak. aku legowo karena aku punya pengalaman soal intimidasi ini.

aku pernah mengalami masa-masa yang lebih intimidatif waktu di hawaii. gimana nggak, aku alumni pondok, lulusan iain, yang hanya belajar nahwu dan shorof, dengan bahasa indonesia dan sedikit bahasa arab, tiba-tiba harus mereview tulisan simone de beauvoir, spivak, bourdieu, di kelas 600,  yang diikuti oleh mayoritas mahasiswa phd pakai bahasa inggris. lalu mengirimkannya sebelum kelas, mengikuti diskusinya bersama delapan mahasiswa saja dengan 8 accent bahasa inggris yang berbeda.

atau diminta mereview tiga artikel bahkan buku dan menulis reviewnya minimal 1000 kata, ada juga yang minimal 5 halaman, dan mendiskusikannya di kelas kecil. pada submission pertama, aku mendapatkan kritikan kalau tulisanku tidak analitis, dan hanya mendapatkan point 7 dari 10. atau pernah juga mendapat remark "what animal is this?" karena aku pakai term yang nggak pas hahaha. sadis bukan? atau, mendapat hasil editing yang isinya merah semua. aku sudah biasa. atau menulis paper dalam seminggu, sampai lembur-lembur dan paginya kayak zombie.

makanya pas pembimbing keduaku nanya, how do you feel about our suggestion? jawabku sambil tertawa, i am fine. dan mereka ikut tertawa.

anyway, yang aku tulis itu memang rough draft. aku cuma menuliskan apa yang aku dapatkan di lapangan dan muncul dalam pikiran. tulis tulis tulis. revisi dan kurangnya nanti. aku abaikan penjelasan term-term juga literature apalagi theory, bridging antarsection, bahkan aku belum kasih tanggal interview di footnote. aku juga belum peduli dengan pilihan judul. jadi, ketika mereka memberikan masukan soal itu semua, aku mengiyakan. santai. karena memang begitu adanya.

however, usai meeting itu, perasaanku menjadi abu-abu. nggak jelas. aku senang mereka bilang, "we both really like the chapter," but at the same time aku nyadar masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. itulah yang bikin otakku tak henti berputar, gimana gimana gimana. bahkan saat malamnya aku tidur, otakku masih juga terjaga, terus bekerja. suara-suara mereka masih terngiang-ngiang di telinga. ulama-ness, ulama, fatwa, contextualize, abangan, issues, NU, bahtsul masail ... zzz zzzz. kebayang kan gimana rasanya? capek. lelah. dan tangisku pun akhirnya pecah malam itu. usai shalat isya aku menangis tanpa suara. aku cuma bisa berdoa, meminta kekuatan, kemudahan, dan kecerdasan.

tapi aku percaya, segala hal itu tergantung gimana kita menyikapinya. nggak usah dibikin rumit atau berat, tapi jalani. lakukan sedikit demi sedikit. pasti akan selesai juga. okay, aku bingung struktur chapternya gimana, ya mulai bikin strukturnya. gimana mulai nulisnya, ya segera saja mulai. kalau strukturnya sudah jadi, tinggal cari literature, and start writing!

"the english of the whole is good," pak pembimbing menyemangati. membesarkan hatiku yang ciut kalau sudah berurusan sama bahasa. "you are on the right track," meski klise tapi kalimat ini bermakna banget buatku. "i have no big worries about you," kata-kata lain yang ia ucapkan. aku jadi pingin ketawa, melihat mereka bergantian membombardirku dengan quote-quote perjuangan sambil memperhatikanku memakai coat. "blood on tears. keep going, keep struggling," kali ini ganti mereka yang tertawa.

November 04, 2018

sepasang mata biru

yang nulis Isma Kazee di 2:32 AM 0 komentar
matanya berwarna biru. maksudku bola matanya. bulatannya tak begitu besar sehingga matanya terlihat dalam, runcing, dan tajam saat menatap.

itu saja yang berhasil aku gambarkan dari moment kami saling bertatap mata pagi itu. selama ini aku tak percaya kalau tatapan mata bisa dalam menghunjam. tapi, mata birunya berhasil memberi aku pengalaman atas rasa aneh yang aku rasakan saat ia menatapku.

satu detik? oh sepertinya lebih dari satu detik. dua detik? kurang juga. baik, mungkin sekitar tiga detik kami saling menatap. hanya menatap, dan mungkin mata kami yang saling bicara dengan bahasa mata yang aku sendiri tak paham. tetapi, kenapa aku merasakan nyeri akibat hunjaman tatapan matanya?

aku bertanya pada mata, ia diam seribu bahasa.

August 31, 2018

Curhat pada Suatu Sore

yang nulis Isma Kazee di 3:41 AM 0 komentar

aku selalu deg-degan setiap kali mau ketemu pembimbing. meskipun aku sudah persiapkan, apa yang nanti mau aku omongkan. "ingat ya, jangan bilang kamu malas nulis. bilang aja kehilangan motivasi," pesan temenku ketika aku bilang kalau aku mau ketemu pembimbing untuk curhat. tapi benar juga, kata malas itu nggak elit haha dibandingkan kehilangan motivasi.

aku melangkah pasti ke kantor pembimbing, sambil merapatkan jaket eager coklat yang kupakai dan memeluknya erat-erat. kurasakan degup jantungku semakin kuat. apalagi selesai aku melewati banyak tangga untuk sampai di depan pintu kantornya yang terbuka. "give me a second," ucapnya setelah mempersilakanku masuk. ia sibuk meneliti print-outan ke
rtas di tangannya. "hmm, I can't find the reference!" gerutunya. aku mengamati saja, sambil mengatur napas, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. beberapa tumpukan kertas tampak rapi berjajar-jajar, yang sepertinya ditata sesuai bundelan masing-masing. di sebelah kiriku, ada rak buku yang tak terlalu penuh isinya. tapi yang menarik perhatianku adalah print out rekaman percakapan lewat what's app yang tertumpuk rapi di bagian bawah rak. di seberang tempat aku duduk, ada juga rak buku yang lain. aku lihat delapan buku agenda tertumpuk dengan apik. aku berasumsi itu adalah tumpukan hasil fieldnotenya.

“okay, aku mau ambil kopi dulu.
kamu mau kopi?” suaranya mengagetkanku. aku menggeleng. “air?” sekali lagi aku menggeleng. “OK. kamu tunggu sebentar ya,” ucapnya kemudian berlalu keluar ruangan. sementara aku, bengong saja. untung tidak lama, aku sudah mendengar suara langkah kaki mendekat. ia masuk kembali dan menutup pintu. setelah meletakkan mug berisi kopi di meja kerjanya, ia menggeser kursinya tepat di hadapanku. dan kemudian, “OK …” hempasnya begitu tubuhnya mendarat di atas tempat duduknya. itu saja. lalu kami saling diam beberapa detik, dan melempar senyum. ia tampak mencari-cari kalimat yang tepat untuk memulai sesi curhat. sementara aku malah tertawa karena lucu melihat kami sama-sama kagok.

“you are writing,” ia membuka obrolan. “yes, i am. meskipun lambat,” balasku. aku tambahkan kalau aku menulis dengan bahasa indonesia dulu kemudian aku terjemahkan. “ya, itu masuk akal. nggak masalah. apakah ada masalah writing block atau hal lain?” tanyanya. aku bilang, kalau aku tidak punya masalah dengan tulisanku karena aku tahu apa yang ingin aku tulis. dan sesuai pesan temanku, aku bilang kalau aku kehilangan motivasi untuk menulis. “apa yang membuatmu kehilangan motivasi?” ia bertanya. aku berpikir. apa ya? yap. aku bilang kalau beberapa bagian isi chapter ini hampir sama dengan artikelku yang sudah terbit. jadi, aku berusaha keras untuk membuat bagaimana chapter ini berbeda sama sekali dengan artikelku itu. rasa-rasanya seperti kerja dobel dan aku jadi malas duluan. aku sudah cerita soal ini ke pembimbingku yang lain sebenarnya. “what did he say,” tanyanya. “he didn’t reply my email,” jawabku sambil tersenyum.

“kenapa kamu menyiksa diri,” ia meresponse. lanjutnya lagi, bahwa tak ada masalah jika konten chapterku sama dengan artikel yang sudah aku tulis. karena banyak yang membuat disertasi dari kumpulan published articles. lalu tinggal tulis pendahuluan dan penutup untuk menghubungkan antarchapternya. selesai. bahkan kalau aku mau, bisa sama persis, tak masalah. bisa juga misalnya, aku buka file wordnya, lalu menambahkan atau mengurangi bagian-bagian yang sekiranya perlu diubah pada bagian-bagian tertentu. bum, selesai. “cuma lain soal, kalau kamunya memang tidak suka.” aku bengong. heran, kenapa aku tidak berpikir sesimpel itu ya. hmm, tapi bagaimana dengan self plagiarism?

“bagaimana kalau aku mau mempublikasikan disertasiku jadi sebuah buku. aku khawatir dengan self plagiarism?” tanyaku. sekilas aku lihat dia tersenyum. “menurutku, konsep self plagiarism itu nggak tepat. mana ada kita mencuri milik kita sendiri. selain itu, disertasi itu kan unpublished work. kalau mau dipublish, gampang saja. tinggal kasih tahu penerbit bukunya kalau chapter ini beberapa persen diambil dari artikelmu yang sudah published. selain, meminta izin kepada penerbit jurnal kalau beberapa bagian dari isi artikel akan menjadi chapter di buku tersebut,” jelasnya. ia tak cuma menjelaskan di atas awang-awang karena ia memberiku contoh langsung. ia memperlihatkan dua buku, yang satu berisi kumpulan tulisan dan salah satunya adalah artikelnya yang terbit sebelum disertasinya selesai. buku satunya lagi adalah disertasinya yang diterbitkan. aku baru sadar ternyata judul artikelnya itu nyaris sama dengan judul chapter di dalam bukunya. dan aku juga baru sadar, ternyata aku bego banget hahaha.

“trus apa yang mau kamu tulis di chaptermu ini?” tanyanya. aku berpikir sejenak. untunglah aku sudah punya outline dan hafal saking lamanya dipikir dan tak kunjung selesai haha. aku jelaskan aku akan membahas ini dan ini, jadi ada empat sections dalam chapter yang sedang aku kerjakan. “aku sudah selesai dengan biografi keempat narasumber utama, meskipun belum memasukkan literature,” tambahku. di luar dugaan, ia menjawab, “lupakan literature dan theory. kamu bisa lakukan itu nanti. sekarang, tulis apa yang kamu dapatkan di lapangan. apa yang mereka katakana. apa yang kamu lihat, dengar, dan pikirkan.” mendengar jawaban ini aku langsung sumringah. lega. haha aku tidak lagi merasa bersalah. “bahkan, kalau kamu belum bisa menulis kesimpulan chapter, tak masalah. atau tulis saja satu paragraph sudah cukup,” lanjutnya. aku tambah sumringah gaess!

ia lalu bercerita tentang metode yang dipakai ibunya dalam menulis. “ibuku seorang akademisi. dia menjelaskan kepada mahasiswanya, untuk memancing kita menulis, anggaplah sebagai latihan, ia disarankan menulis surat untuk ibunya atau temannya, atau siapa pun yang tidak tahu menahu tentang topic penelitiannya. dijelaskan dengan bahasa sederhana, tanpa literature dan theory. surat itu bisa dikirim beneran atau tidak. karena bukan itu fokusnya. tapi, latihan mengartikulasikan gagasan ke dalam tulisan sederhana. malah, bisa jadi bagian dari surat itu dipakai untuk isi chapter atau disertasi yang sedang ditulis,” jelasnya. menarik. bisa dipraktikkan untuk memancing mood menulis. yaitu, menulis surat. “okay, noted,” jawabku mantap.

“well, kita sudah membahas soal self plagiarism, lalu literature dan theory. kita lempar keduanya lewat jendela,” ia melanjutkan obrolan. aku tertawa. “lalu, apa lagi yang membuatmu kehilangan motivasi?” aku kembali berpikir, sampai aku menemukan satu persoalan lagi. aku tidak percaya diri dengan penelitianku. “kadang muncul pikiran kalau penelitianku nggak menarik atau sudah banyak dibicarakan orang. apakah tulisanku cukup intelek, tapi kok rasa-rasanya kayak sampah aja,” curhatku. lagi-lagi ia tersenyum. menurutnya, itu normal. semua mahasiswa PhD merasakan hal yang sama. malah kalau aku tidak merasakan itu, termasuk abnormal haha. cuma, ia tidak bisa juga memberikan motivasi dengan misalnya mengatakan, oh penelitianku bagus bla bla bla. meskipun kemudian ia melakukannya. “sesekali buka kembali lembaran prestasimu. misalnya, ini jurnal asian studies reviews. kamu menjadi salah satu penulis di antara scholars yang berbicara tentang female authority. tulisanmu dikutip. lalu dengan menulis disertasi, kamu akan dapat kesempatan untuk menuliskan topic itu lebih lengkap lagi,” ucapnya. dan jujur, saat itu aku jingkrak-jingkrak di dalam hati.

belum lagi ketika ia bilang kalau aku smart dengan penyajian dataku. karena aku memulainya dengan biografi empat informan utama, sehingga menarik pembaca langsung ke core issue. “selama ini aku perhatikan, kamu well planned kok. ini jauh lebih baik dari pengalamanku dulu. kamu tahu apa yang akan kamu tulis. struktur disertasi yang kita diskusikan dulu itu logic. nico juga suka,” tambahnya. aku melongo, sambil mikir, bukannya memang harus punya struktur jelas dulu ya sebelum menulis. apa maksudnya dengan kata-katanya kalau pengalamanku lebih baik dari yang dialaminya. well, mungkin aku salah tangkap, atau ia berusaha menghiburku haha. whatever lah. bagiku ini sudah berasa sebagai suntikan motivasi yang luar biasa.

rasanya, ambrol semua beban derita dan gundah gulana. ruangan yang tak seberapa luas itu tiba-tiba berubah menjadi hamparan pantai alamoana dengan anginnya yang semilir sepoi-sepoi. rasanya, sekali menyentuh keyboard satu chapter selesai hahaha. tapi aku mendadak tergeragap ketika ia bertanya, “should we make a new deadline?” duuuh, rasanya aku langung terjerembab ndlosor di hadapan mas pembimbing ini, dan menatapnya dengan pandangan pasrah. wis mas, aku pasrah wae!

June 12, 2018

encouragement

yang nulis isma di 5:52 AM 0 komentar
usai acara peluncuran buku waktu itu, aku sebenarnya cuma mau menghampiri pembimbingku untuk minta kunci kantornya. hari itu aku numpang kerja di kantornya dan tasku aku tinggalkan di dalamnya. "hai ismah, sini. ini ibuku, dan ini ...," ia menyebut nama yang tidak bisa aku ingat lagi. mau tidak mau aku pun menyambut niat baiknya memperkenalkanku dengan orang-orang yang kebetulan sedang berbincang-bincang dengannya. aku menyebutkan nama dan statusku di leiden university.

"ismah ini mahasiswaku. dia sedang mengerjakan projek yang incredible," lanjutnya. ia lalu menjelaskan topik penelitianku dengan sangat meyakinkan. aku sampai heran bagaimana mungkin ia tampak begitu bangga dan yakin bahwa projekku sangat menarik. ia juga mampu memberikan penjelasan yang jauh lebih baik dari penjelasan yang biasanya aku sampaikan kepada teman atau kolega yang bertanya tentang penelitianku. pembimbingku ini sepertinya jauh lebih optimis daripada aku, mahasiswanya yang melakukan penelitian. aku, berdiri canggung di hadapan orang-orang itu, mengangguk-angguk sambil nyengir.

sebenarnya aku sering tidak percaya diri. aku suka underestimate diriku, penelitianku, pekerjaanku, kemampuanku, dan semua hal tentang aku. aku selalu merasa bahwa setiap kali orang bicara baik dan memberikan apresiasi, itu untuk pantas-pantas saja. termasuk yang dilakukan pembimbingku ini. kalau dipikir-pikir, kok jahat banget sih sama diri sendiri. aku takut kalau aku tidak cukup bersyukur dengan semua hal baik yang sebenarnya banyak aku terima. tuhan, ampuni aku ya.

hmm, tapi pada waktu tertentu aku merasa kalau pembimbingku memang benar melihat dan mengapresiasi kemampuanku. misalnya, ketika ada kesempatan presentasi, ia mengajakku untuk juga presentasi. padahal, meskipun tanpa aku dia bisa melakukannya sendiri. dia ikut observasi dan punya data tentang event itu. lalu ketika koleganya memintanya untuk usul nama speaker tentang review film kartini. ia serta-merta menghubungiku, dan ketika aku laporan kalau presentasiku berjalan baik. jawabnya, "kamu emang ahlinya." coba, encouraging sekali bukan. dan ternyata, karakter yang seperti ini juga ditunjukkan oleh pembimbingku yang lain. meskipun dulu, yang satu ini sempat sedikit kecewa dengan performaku.

sore itu kami ada meeting bertiga untuk kedua kalinya. kami membahas laporan kerja lapanganku yang kata salah satu pembimbingku, "ini bukan laporan karena isinya hanya pujian saja. tidak banyak detil tentang apa, kapan, dan bagaimana." aku mengangguk, mengakui kekurangan. tapi, aku dibela sama pembimbingku yang lain. katanya, "ada banyak cara orang menulis laporan, dan ini laporanmu." pembimbing yang ini tidak banyak memberikan komentar. katanya lagi, "i did not write a lot because i feel quite positive. it is an interesting project." mendengar itu aku bertepuk tangan di dalam hati.

juga ketika mereka beradu argumen tentang kemungkinan menambah research question dengan menggunakan double penglihatan atas kasus fatwa perempuan untuk konteks perfatwaan di indonesia secara umum. aku setuju saja, dan aku pikir memang sebaiknya seperti itu. sementara pembimbing satunya lebih bersikap hati-hati dan menguji kemungkinannya. mereka saling menjelaskan dengan aku sebagai pendengar. aku ambil positifnya saja. bahwa mereka bisa menangkap dan memahami apa yang aku tulis. mereka hanya memberikan masukan dan tambahan, tidak membutuhkan klarifikasi. usai pertemuan itu, aku senang. kalimat-kalimat mereka yang encouraging terus terngiang-ngiang membuat tunas-tunas semangatku kian bermekaran ...

"By looking at the quality of this and what is going you’re totally right. You know what you’re doing!"
"It is very promising and fascinating. I really want to read the entire of your book."
 

Isma Kazee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea