Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts

November 04, 2018

sepasang mata biru

yang nulis Isma Kazee di 2:32 AM 0 komentar


matanya berwarna biru. maksudku bola matanya. bulatannya tak begitu besar sehingga matanya terlihat dalam, runcing, dan tajam saat menatap.

itu saja yang berhasil aku gambarkan dari moment kami saling bertatap mata pagi itu. selama ini aku tak percaya kalau tatapan mata bisa dalam menghunjam. tapi, mata birunya berhasil memberi aku pengalaman atas rasa aneh yang aku rasakan saat ia menatapku.

satu detik? oh sepertinya lebih dari satu detik. dua detik? kurang juga. baik, mungkin sekitar tiga detik kami saling menatap. hanya menatap, dan mungkin mata kami yang saling bicara dengan bahasa mata yang aku sendiri tak paham. tetapi, kenapa aku merasakan nyeri akibat hunjaman tatapan matanya?

aku bertanya pada mata, ia diam seribu bahasa.

December 21, 2016

Pelangi

yang nulis Isma Kazee di 3:49 PM 0 komentar

"maafkan, aku terlambat. aku tak enak meninggalkan acara makan-makan bersama kawan-kawan," ucap zoya terbata-bata. mengenakan kaos biru tipis bertuliskan honolulu, wajahnya tampak kusut sekaligus pasrah. ia kadang memang bodoh, lebih tepatnya, tidak cerdas membaca dengan perasaan sebelum melakukan sesuatu. sejak pukul lima sore, ia sudah sibuk membantu menyiapkan acara makan-makan untuk ia berempat setelah mereka berjalan-jalan keliling pulau oahu. dan tanpa ia sadari hingga pukul sepuluh malam, ia baru bisa beranjak dari dapur lantai 9. tiba di kamarnya, ia disambut oleh hampir puluhan pesan yang direkam oleh mesin penjawab bahwa seseorang sedang menunggunya di ruang printing sejak sore hingga lumutan.
"sini aku bantu scan," tawarnya. "aku benar-benar minta maaf." ia mendekati ziya, menyentuh pundaknya, tapi langsung ditepis oleh tangan ziya yang gemetar. ia tak sedang sakit, tapi menahan hatinya yang bergemuruh. rasanya kata marah dan kesal tak cukup mewakili perasaannya. zoya sudah berjanji akan membantunya menyelesaikan tumpukan buku yang harus ia scan dari sore hingga malam itu. sebelum ke tempat printing, ia sudah telpon 6458, nomor telpon kamar zoya, nun tak kunjung ada jawaban. dua kali, tiga kali, hingga puluhan kali, panggilannya dijawab oleh mesin perekam, "this is zoya, i am not in my room. please leave your message." ia meninggalkan pesan dari "where are you" hingga "i hate you. nyebeli. njembeki. njelehi aarrrrrrrrgh."
"ziya, please don't cry," ia melihat ziya membuka dan menyecan halaman demi halaman sambil terisak. "bagaimana aku tidak menangis, berkali-kali aku menelpon, berjam-jam aku menunggu, kamu malah santai makan-makan lupa sama janji. padahal aku sudah tidak ada waktu lagi untuk menyelesaikan scanan ini, tinggal malam ini saja. ini malam terakhirku di sini dan aku ingin menikmatinya sebahagia mungkin bersamamu. bukan bersama mesin scan ini. kamu kemana saja. kamu sedih tidak sih?!!" ziya meracau tapi dalam hati. saat itu yang bisa ia suarakan hanya isakan seperti bocah dua tahun menahan sakit karena dicubit temannya.
"ziya, ziya oh ziya," zoya menarik ziya dalam pelukannya. berkali-kali ia mengumpati dirinya sendiri. ia memang bodoh. ia bahkan tak bisa merasakan bagaimana besok ia harus melewati hari pertama tanpa ziya. atau mungkin karena ia sebenarnya terlalu sedih dan bingung sampai tak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. melewati hari-hari terakhir di manoa tanpa ziya bagi zoya adalah sore hari yang hujan tanpa matahari dan kopi, juga pelangi karena waktu malam ia sudah tak bisa melihat langit saat hujan sudah reda. sekarang ia menemukan perasaannya. pipinya sudah basah. ia benar-benar takut kehilangan ziya, pelangi hatinya.

September 09, 2016

it is closed

yang nulis Isma Kazee di 5:41 PM 0 komentar
Ku Ina goes to the house. It has five doors. All doors were open but now one door is closed. Ku Ina asks to a person standing in front of the main door. The person says, it has closed as the owner is expecting somebody to enter and stay in there so everything should be removed and renovated. It will open again later with special fence and lock. So nobody else will go through the door.

Ku Ina is in a deep quite. It is sunny day but it feels like it is very cold winter and a heavy rain is just pouring Ku Ina's body, mind, and heart. The person leaves Ku Ina standing in front of the house. Ku Ina remembers there is a beautiful frame of two penguins beside the closed door and Ku Ina goes to the house to take the frame, but maybe it has been thrown away. As nothing that Ku Ina can do, Ku Ina leaves the house with an empty heart, wet, and cold.

April 23, 2016

setelah ia terluka

yang nulis Isma Kazee di 9:54 PM 0 komentar
ia masih terdiam. menatap kosong bentangan langit berhias mendung yang sepertinya sebentar lagi akan hujan. aku diam tak berkutik. merasakan perih dalam hati. ini untuk kesekian kalinya aku membuat kesalahan. semua karena kebodohanku. dan aku tahu, seberapa panjang kalimat aku ucapkan, tetap tak akan bisa menyembuhkan perasaannya yang sudah kadung terluka. padahal, aku paling tidak bisa melihatnya tak bersinar, apalagi sampai menitikkan air mata. aku ingin melihatnya selalu bahagia, apa pun aku rela lakukan. ia adalah kawan terbaikku. tak ada hak orang lain melarangnya menjadi kawan terbaikku. selamanya akan selalu begitu. sampai kapan pun.

"aku marah sekali dengan orang itu. semua bukan salahmu. tapi ini salahku. yang tidak bisa mengiyakan keinginannya karena aku memang tidak bisa. aku tak punya kedekatan apa pun dengannya."
ia mendesah, lalu berbalik menatapku. "lalu kenapa aku yang dipersalahkan?"
"ia mungkin tak punya cara lain. ketika tak bisa mendapatkan yang diinginkan, ia cuma punya satu cara, yaitu menyakiti dan menyerang siapa saja yang dianggap sebagai musuh."
"kenapa bukan kamu yang disakiti dan diserang? kenapa aku?"
"karena kamu perempuan hebat. ia takut jika kamu tetap hebat, ia akan kalah."
"jawabanmu berlebihan. apa ini salah satu caramu supaya aku bisa melupakan serangannya?"
"tidak. aku berkata yang sebenarnya. atau kamu ingin balik menyerangnya?"
"aku tak punya masalah dengannya. aku juga bukan dia yang tidak bisa berpikir dengan baik dan hanya bisa menyerang seperti itu."
aku tersenyum. mendapatinya sudah bisa mencair.
"kamu memang hebat!"

ia terdiam. menarik napas panjang. sangat panjang.
"apakah kamu senang ia sudah menyakiti aku?"
"tidak. sama sekali tidak. aku ikut merasa sakit."
"kamu akan menikahinya?"
"tidak akan. selamanya tidak akan. aku tidak menyukainya dan ia sudah menyakitimu."
"kamu serius?"
"iya, aku serius. suatu saat nanti, ia yang baik akan didatangkan untukku. dan kamu tetap akan menjadi kawan terbaikku."
"tapi apa sebaiknya aku pergi saja."
"pergi ke mana?"
"pergi dari menjadi kawan terbaikmu."
dadaku berdegup kencang. mataku seketika berkaca-kaca. hanya mendengar kata pergi, aku merasa dunia seperti sudah akan runtuh. "jangan. sungguh jangan."
"kamu akan baik-baik saja."
"jangan pernah berpikir untuk pergi. jangan pernah."

ia tak menjawab. sepi. hanya semilir angin berhembus mengibarkan helaian rambut hitamnya yang panjang. 
 

March 04, 2015

The Time

yang nulis Isma Kazee di 12:22 PM 0 komentar
"It's the time, finally," ucapmu. Adikku yang paling manis.
"Kamu sedih?"
"Ya sedikit, tapi lebih banyak kuatir," jawabmu lagi.
Aku tertawa, "Kamu masih tidak percaya ya sama Mbakmu ini. Urusan Ayah Ibu sini serahkan sajalah sama Mbak."
"Yee bukan soal Ayah Ibu, Mbok. Tapi bagaimana aku di sana," ralatmu tak terima.
"Percaya juga sama Mbak, kamu kan fighter, pasti akan baik-baik saja. I am proud of you!"

Mobil berhenti tepat di bibir halaman gedung pemberangkatan. Aku dan adikku memang tak terlalu dekat, malah sering rebutan dan bedebat bahkan untuk hal-hal yang sepele. Tapi, tetap saja melepasnya tinggal jauh dari rumah bukan hal yang mudah. Aku jadi tidak ada kawan bertengkar lagi di rumah. Tapi, perasaanku ini tak lebih berat dari yang dirasakan Ibu. Karena aku harus bekerja setiap hari bahkan ke luar kota, adikku ini yang selalu menemani ibu, menjawab pertanyaan-pertanyaan ibu tentang issue yang ditayangkan di TV, bahkan mengajarinya bagaimana menggunakan Hp baru yang baru dibelinya kemarin.

"Jangan lupa lho, ubah habit makanmu. Ingat-ingat apa yang sudah Mbak ajarkan," ucapku dengan mata pura-pura mendelik.
"Iya-iya. Ah, cerewet deh!"

Aku tertawa, mataku berarir, bukan karena tawa sebenarnya. Tapi, aku menangis. Adikku memeluk kami satu per satu. Ibu tak menangis. Ia perempuan yang tegar. Kugenggam tangannya kuat. Ayah, seperti biasa, tampak tenang memeluk adik semata wayangku. Semua bawaan sudah berjajar di samping kanan kiri adikku. Ia mengenakan batik krem yang aku belikan di pasar Bringharjo. Dibalut jaket almamater SMA-nya, menggendong tas punggung tempat laptop dan benda penting lainnya. Ia sudah tumbuh menjadi anak besar dan akan menjadi orang besar. Ia melambaikan tangan sambil berjalan menuju antrean. Setelah sosoknya tak terlihat, kami beranjak menuju parkir mobil.

Trueng, notifikasi email pada hapeku berbunyi ketika perlahan mobil kami berjalan.
"Oh God, is it real?" teriakku tak percaya begitu membaca email yang kuterima.
"Ada apa Naka?" tanya Ibu.
Aku berhambur ke pelukan Ibu, menangis. Tuhan menjawab doa-doaku.




August 04, 2013

brown cookie

yang nulis isma di 10:42 PM 1 komentar

"hei madam," ia menyapaku. aku tersenyum.
"do you have ... mmm cookies?"
"yes madam, which one do you like?"
"no ... i mean, brown cookies."
"oh, no madam. we don't have it," ia beringsut, mundur.

mataku memutar, melihat tumpukan kue-kue kering yang beraneka warna dan bentuk. mereka tak beraturan. mengambil posisi masing-masing. aku ingin kue kering berwarna coklat, tidak gelap tidak pula terang.
"wait," aku tiba-tiba berucap. "could you take me that one."
laki-laki itu, bermata cekung dan hidung mancung, menunjuk kue kering berwarna orange. "no. next to it," jelasku, "yes, that one," lanjutku ketika kulihat ia mengambil kue kering yang aku maksud.

aku bersorak, ini dia brown cookie. the real brown cookie. ia duduk manis di hadapanku, di atas piring kecil, di atas etalase. ia berbentuk bulat dengan siraman gula-gula di atasnya, transparan. ingin sekali aku segera menggigitnya, tapi aku masih ingin memastikan benarkah ini brown cookie. kakek bilang, tekstur brown cookie begitu lembut. dengan permukaan yang mengkilap karena lelehan gula. oh, aku menemukan kue kering itu sesuai dengan gambaran kakek. benar sekali, ini brown cookie. senyumku mengembang.

"aku mau yang ini," tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku.

aku melongo, kue itu sudah berpindah tangan. dan secepat hatiku runtuh selekas itu juga ia membayar. aku masih tertegun. tak ada lagi brown cookie itu.

March 03, 2012

Anger

yang nulis Isma Kazee di 5:28 AM 0 komentar
It was a shiny day, but soft rain was poring the yard. I was walking towards my dorm with some thoughts and plans in mind, when suddenly a sweet voice called my name. I turned around and saw a blue beautiful shape and I heard "i hate you" in lovely way. This happened to me first time in my life that somebody calls you to say she hates you but with expression of love. I was laughing inside and smiling outside. What kind of hatred is this which can drag you towards it. If this is hate then please give me such sweet hate.

And now, she is standing in front of me. Her eyes are like fire but fire of love. Her hair is black in dark like what I am now swimming in my blind love on her. But anyway, I am ready to play with her anger.

__________________________________________________
Haha ngasal ....

January 27, 2012

sketsa

yang nulis Isma Kazee di 7:54 PM 0 komentar

"Hai, you just came back?"
ia tiba-tiba muncul dari arah pintu dapur yang perlahan bergerak menutup dengan sendirinya. menenteng tas plastik bertuliskan Nijiya, supermarket penyedia makanan korea dan jepang. entah apa lagi yang dibelinya kali ini, entah mochi entah sushi. aku buru-buru mengangguk sebelum dia akan menegurku kenapa aku diam saja. ini strategiku supaya aku bisa asyik memperhatikan, bukan lagi plastik itu tapi pada seraut wajah khas latin yang menarik.

pernah melihat wajah latin belum? oh, baiklah, aku akan coba bantu menggambarkannya. terus terang satu hal yang paling membuat aku suka berlama-lama memperhatikan wajahnya adalah sepasang mata bulat kecil dan bulu mata lentik cowok di depanku ini. sepasang mata indah itu akan bergerak lincah mengikuti gerak tangan dan bibirnya saat berbicara. energik dan bersahaja. tapi mata itu akan tiba-tiba meredup, saat yang empunya bertanya: are you okay, rara? saat aku terlihat kucel karena semalaman tak tidur gara-gara melayani paper. aku suka sekali dengan mata itu, dan juga hidungnya yang lancip dan tinggi. aku tidak memakai istilah panjang karena takut kamu akan membayangkan hidung pinokio. oh tentu, tidak sepanjang hidung pinokio. mungkin hidung itu akan menancap lembut jika ia berkesempatan menyentuh hidungku. ups! kelepasan!

"rara, why are you looking at me like that?"
aku tersenyum, ini strategi kedua supaya aku terlihat cukup terkendali dan tidak dalam keadaan mabuk memperhatikan wajahnya. "you know what, i am thinking on my short story. i am observing you for one of my characters," jawabku mantap. sok mantap, dan berusaha menjawab kepo-nya.
dia tertawa ringan. "are you sure?" ucapnya sambil menggerak-gerakkan matanya. alamak, seksi sekali.
giliran aku yang tertawa. "sudah-sudah. hentikan itu putaran matamu itu. ambil piring dan sendok, dan lalu makanlah apa yang kamu bawa itu," aku menghindar.
"well, baiklah. tapi satu hal rara, aku tahu kok kenapa kamu ingin karakterku muncul dalam cerpenmu."
"terus kalau sudah tahu, emangnya kenapa?" balasku telak.
ia urung membalikkan badan, menatapku berlama-lama dengan heran. "kamu tidak penasaran dengan apa yang aku tahu tentangmu?"
"no at all," aku terkikik. jurusku ampuh. membuatnya tampak keki.
"hhheeeeeh," keluhnya dan berlalu.

-----------------------------------------------------------
gara-gara KEPO nih alias "penasaran" menurut bahasa cina tua,
ngasal saja nulis ini
yang penting ada kepo-nya haha

-----------------------------------------------------------

December 22, 2010

tidak tahu

yang nulis Isma Kazee di 10:05 AM 0 komentar
"kamu marah?"
diam. tak ada jawaban. mau bagaimana lagi, dijelaskan juga susah untuk dimengerti. mau marah juga tidak pada tempatnya. tidak marah seperti ada yang menderu-deru. jadi, solusinya adalah diam.
"hai, kamu pasti marah?"
"tidak tahu."
"kok?"
mendelik. balik menatap seolah berkata, emang gua kagak tahu.
"sorry."
"untuk apa?"
"sudah membuatmu marah."
"it's okay."
"hai mau ke mana?"
"tidak tahu."

December 04, 2010

morning

yang nulis Isma Kazee di 3:16 AM 1 komentar
"do you hate me?"
"ya maybe. you made it."
"not me, but your self."
silent. the wind sounds, moves over the leaf. does the wind hates the leaf?
"but i don't. or actually i am not hating you, but i am forgetting you. it's much better. so, let me go and you will be happy with your life."

in the morning, the leaf does not ask anything.

_________________
haha, suseh nulis cerpen pake enggris.
jadinya mentok deeeeh
dasar enyonge bae sih sing ga jossss :D

November 27, 2010

lantai 6

yang nulis Isma Kazee di 10:00 AM 0 komentar
gerimis mengingatkanku pada pagi gerimis pada suatu waktu dan tempat di pinggiran kota. langit basah. udara basah. halaman basah. daun-daun basah. jendela basah. balkon tempat aku menapak menatap hamparan kota dari lantai enam juga basah.

kau sedang sibuk berkutat dengan laptop. di sebuah ruang tamu kecil berhadapan dengan kamar tidur yang satu-satunya. secangkir kecil kopi masih mengepul. kopi instant yang tak terlalu manis. musik lembut tanpa lirik mengalun pelan. entah apa yang tengah kau kerjakan. aku hanya menatapmu dari balik jendela kaca balkon.

hari masih pagi. waktu malas untuk berbenah. di kulkas masih ada sisa makanan semalam, nasi kebuli. juga, lima tusuk sate kambing dan lalapan. mungkin aku tinggal memanaskan saja untuk sarapan. atau kalau tidak, kami bisa turun ke dining room. menikmati nasi goreng telor dan segelas teh manis yang disediakan pengelola apartemen. lumayan.

aku perlahan beranjak, mendekati tatanan meja kursi makan yang terletak persis di depan pintu masuk. di sebelah kanan meja kursi makan itu ada dapur. cukup elit menurutku. karena dapur ini bersih dan rapi. meski tak ada oven pemanggang seperti kebanyakan dapur apartemen berkelas. aku suka dan betah.

"bila yang tertulis untukku ..."
tone hapeku berbunyi. ika, memanggil.
"yup, ka."
"udah siap?"
"yup. lima menit aku keluar."
"okay, gak pake lama. lumutan gue."
"iye iye."
dan selesai.

di sebuah pusat kota. pada sebuah kamar apartemen lantai 12. kakiku menatap ujung tempat tidur, keras. di pagi yang basah dan membuat basah memoriku.

November 16, 2010

sendu

yang nulis Isma Kazee di 12:08 PM 0 komentar
seharian seperti tak ada matahari. dingin dan sepi. mungkin karena seharian tak keluar kamar dan hanya berkutat dengan huruf dan usaha bagaimana supaya tidak beranjak atau terkantuk-kantuk. tapi, seperti ada yang terasa dingin dan menggigit. bukan serangga atau es, tapi begitulah terasa.

"hai, senyum dong!"
ah, kamu selalu memintaku tersenyum. tapi, stock-nya lagi kosong. ada yang sudah menggadaikannya tanpa bilang-bilang.
"Hahaha..."
yeee, malah tertawa. Ini serius.
"wajahmu lecek. matamu jadi gelap. rambutnya juga sudah lengket. berapa hari tak mandi. kamu jelek banget."
aku mengangguk-angguk. ini hari yang berat. hanya hari ini, sampai aku tak berkutik. semua dilupakan, hanya mengingat satu hal itu. mungkin karena itu rasanya dingin dan menggigit.
"kamu sih memulai hari dengan penyakit."
iya, penyakit yang menyebalkan dan membuat senyumku tergadai.

hari sudah malam, dan masih tetap saja dingin dan menggigit. malah semakin kerasa mengoyak-ngoyak tak tersisa.

November 06, 2010

sign out

yang nulis Isma Kazee di 1:46 AM 0 komentar
"cepat atau lambat juga akan berakhir seperti ini. jadi, lebih baik berakhir sekarang."

di sebuah rumah, seperti bergaya amerika, atika sedang berjibaku dengan setumpuk kertas dan jejalan huruf. malam ini ia menginap di rumah pembimbingnya. sebuah rumah yang mungil tapi lengkap. ada empat kamar, dan ia menempati kamar anak kedua pembimbingnya yang terpaksa menumpang tidur di kamar kakaknya. sebuah meja bundar kecil diletakkan di tengah ruang keluarga. lampu temaram bersinar lembut. memancarkan cahaya emas ke setiap permukaan dinding dan menerpa foto-foto atau gambar yang menempel. hangat seperti selimut bayi, dan memang seperti itulah advisornya. dia adalah malaikat yang baik hati.

sudah larut, tak ada yang terjaga saat ini. meskipun sebelumnya advisornya sempat mengucapkan satu dua patah kata pada atika, menyulutkan semangat untuk terus menulis. atika senang karena mendengar malaikat berbicara. meskipun kemudian ia kembali bersedih, pusing, melihat lembaran program word di hadapannya masih saja tak bertambah paragrafnya. bahkan, atika tak bisa membaca barisan-barisan hurufnya. mungkin karena ia sudah mengantuk.

"hai, apa kabar?"
atika terlonjak. mengerutkan kening. sebuah kotak mungil tiba-tiba muncul di layar laptopnya, dan di bagian atas kotak itu sebuah id tertulis. marawis. atika terpaku seperti melihat alien yang mendarat di bumi. ya, id yang bagi atika sudah menjadi alien meski ia masih tercatat sebagai temannya. tiba-tiba tangan atika menjadi dingin. dan mata ariannya, tiba-tiba juga berair.

"buzz"
kotak itu bergoyang gempa, satu kali. kalau saja itu adalah pemukiman, mungkin beberapa genteng yang terpasang tak kuat di pinggiran atapnya akan berjatuhan. ambrol. seperti perasaan atika detik ini.

"hai, baik," atika menulis.
"lagi ngapain kok belum tidur?"

atika tak bergerak. menyadari sudah berapa tahun ia kehilangan kalimat itu. satu minggu? oh, itu baru kemarin. satu bulan? mmm, sepertinya kurang lama. tiga bulan? tetap saja, masih kurang ke belakang. setengah tahun? masih kurang juga. satu tahun? dua tahun? tiga tahun? ahh, atika menyerah. sepertinya ingatannya dibuat tidak bagus untuk mengenang hal-hal yang tak indah.

"buzz"
kotak itu bergempa kembali.
"sedang sibuk ya? atau tidak mau membalas?"
"sekarang minggu-minggu mengerjakan tugas akhir. maaf ya, kalau telat replynya."

baik sekali aku, batin atika. selalu minta maaf di setiap kesempatan. tapi sayangnya, mungkin karena itu ia menjadi tak berharga dan dianggap percuma sehingga tak perlu mendapat balasan. dan kenapa orang itu cuma memberikan dua opsi jawaban. tidakkah dia tahu kalau orang diam itu besar kemungkinan sedang berpikir, menimbang-nimbang, dan sedang berproses membuat keputusan.

"oh, aku tak bermaksud mengganggu. aku cuma kebetulan online dan aku lihat kamu juga online, jadi aku menyapa."

"apologi ah, supaya tidak terlihat kalau kamu sebenarnya ingin menyapaku. kambing hitam, supaya aku yang terlihat tidak elit dengan online dan memancingmu untuk menyapa," atika menulis, tapi hanya di dalam hati. ia sudah hafal dengan apologi dan kambing hitam itu. dan yang muncul dalam kotak itu hanyalah, "oh, i see."

jeda. atika terdiam. dalam benaknya ia menulis, "lagi di mana? sedang apa, kok belum tidur? apakah lagi bertugas? bagaimana kabar desa binaan? kapan rencana menengok teman-teman di sana?" dan serentetan pertanyaan yang biasa dan ia terbiasa untuk bertanya pada waktu yang silam. lampau. prasejarah. bahkan dunia ini belum ada, hingga saking lamanya atika tak bisa lagi mengingat kapan persisnya. atika sudah menguburnya dalam-dalam. dalam kuburan 2000 kilometer dalamnya atau malah melebihi banyaknya hitungan paling banyak yang ada dalam ilmu pengetahuan. muntahal jumuk.

"bagaimana kamu sekarang?"
atika tak segera menjawab karena bendungan matanya roboh. empat titik air menetes dua-dua masing-masing dari kedua matanya. layar laptop di depannya berubah seperti gelombang air di akuarium. bedanya, bukan ikan-ikan kecil yang bergerak melainkan huruf-huruf kecil yang terbuat dari paku, pecahan kaca, dan segala benda tajam hingga kalimat baik itu malah membuat hatinya terkoyak.

"t a k b a g a i m a n a - b a g a i m a n a," satu per satu huruf ia tulis, satu per satu juga matanya menetes. "sudah larut. aku mau tidur," lanjutnya. "tapi sebelumnya aku ingin menulis, KENAPA?"

atika tak ingin menyudahi, lampu yang bersinar hangat malam ini tahu hal itu. bahkan seekor cicak yang tertegun di pinggiran pintu kamar advisornya juga mengerti kalau atika terpaksa menyudahi. matanya sudah tak kuat untuk diajak bertahan. kalau boleh jujur, bukan tanya itu yang ingin ia tuliskan. ia ingin mengatakan, "bisakah kita berteman baik dan tetap berteman baik tanpa diam, benci, apalagi menyakiti. karena persahabatan kita terlalu indah untuk dikoyak dengan rasa-rasa negatif itu. kedekatan kita sangat pantas untuk membuat kita selalu mau memaafkan dan berbuat yang baik-baik." jauh di lubuk hati, atika suka dengan pertanyaan itu. hanya saja, api sudah kadung menjalar membakar dirinya hidup-hidup dan tiba-tiba ia mendapat pertanyaan, "kamu baik-baik saja?" tanpa jawaban pun semua orang sudah bisa menyimpulkan bahwa atika sudah tak bernyawa.

beberapa menit tak ada jawaban, tapi atika tak mau membunyikan 'buzz'. atika tahu, hanya id marawis yang boleh memaksa, boleh diam, dan boleh tak memaafkan. dan atika, harus selalu menjadi sebaliknya. malam semakin larut, meneruskan bercumbu dengan tulisan juga sudah tak bisa. lebih baik tidur, menutup kisah buruk malam ini. tangan atika bergerak, mengarahkan kursor pada icon x dan lalu pada menu untuk sign out. tapi, tiba-tiba kotakan kecil muncul lagi, membuat atika terlonjak. lebih-lebih setelah membaca barisan kalimat itu. ia terpaku, terdiam hingga ketiduran sampai pagi.

"cepat atau lambat juga akan berakhir seperti ini. jadi, lebih baik berakhir sekarang."

________________________________________
*gara-gara bikin paper, mimpinya bikin paper juga. gimana nggak dobel capek, sadar nggak sadar ngerjain paper. dan suer, nulis paper itu 5000x987000 dan 2789654310098km. lebih susah dari nulis fiksi apalagi mimpi ...

October 23, 2010

legitnya coklat

yang nulis Isma Kazee di 3:56 AM 0 komentar
"ajari aku bagaimana melakukannya dengan baik," sky berkata pada bintang. di luar sudah gelap, sudah hampir tengah malam. perahu nelayan sudah tak terlihat lagi berjajar, sudah berlayar di laut lepas. "ajari aku, please ...," seperti anak-anak sky kembali meminta.

bintang bukan tak mau mengajari, ia masih berpikir. karena apa yang ia ajarkan akan membuatnya kecanduan. menikmati coklat, bagaimana merasakan manisnya, menikmati detil aromanya yang khas, lalu gerakan gigi yang mengunyah lengket karena cemlaket coklat. sekali tak cukup, dan pasti akan ingin coklat yang lain. ataupun jika tak ada lagi, memori akan mencatat dengan baik bagaimana rasanya menyentuh jiwa coklat.

"kamu yakin?"
"karena aku belum pernah tahu sebelumnya." sky lalu terdiam, tapi berbicara dengan mata di antara gelap pesisir pantai. angin basah menarikan rambut panjang sky, berkibar membelai pipi bintang yang halus. mata mereka saling menatap.

dan, waktu berjalan begitu cepat. sekarang sudah dua minggu dari pelajaran pertama itu, saat kemudian sky dan bintang tak pernah bertemu lagi. sky berpesan: "aku harus melaut bersama teman-teman, dan akan berlabuh sejenak di pulau tempat aku bisa mendapatkan coklat. lalu, aku akan mendapatkan pelajaran yang kedua dan seterusnya. malam menikmati coklat pertamaku, siang aku seperti tak menapak di bumi. padahal yang kamu ajarkan biasa saja, pejamkan mata dan ikuti perasaan ke mana membawa untuk menggerakkan gigi dan lidah, menikmati detil manis dan legit coklat. gila, seperti tersengat aliran listrik, ia masih tersimpan dalam ingatan perasaanku. aku ingin melakukannya lagi. dan seperti kamu bilang, semakin pekat coklat akan semakin tandas ia menendang."

bintang menatap jauh ke depan, berbisik, "you did."

October 07, 2010

negeri atas air

yang nulis isma di 12:08 AM 0 komentar
aku sebenarnya tak sengaja untuk mengingat negeri itu. kutemukan di ujung pulau, bahkan terpisah, hanya sebuah pulau. waktu kami menuju negeri itu untuk kedua kalinya, hari sudah gelap. sejak mula di pintu gerbang malah, sejak kami harus menyeberangi lautan air dan lalu mendengar bisik angin untuk pertama kalinya di tepian negeri itu. saat rasaku bergolak dan saat semuanya bermula.

entah apa kabar negeri itu sekarang. aku tak lagi mendengar atau membaca kabar tentangnya. apalagi, namaku sudah dihapus dalam sejarah penemuan negeri itu. jadilah aku hanya bisa kadang teringat, dan ingin sekali tak berair seperti sekarang. teringat aku seperti sedang berjalan di atas ombak dalam gelap diiringi kitaro yang menyentuh. masih tergambar, masih terasa jelas.

negeri atas air ... tak tersentuh di ujung pulau

February 06, 2010

perempuan

yang nulis isma di 8:32 AM 0 komentar
entahlah, aku nggak suka dengan perempuan itu. berjilbab sorong, berkulit putih, dengan bibir merah oleh lipstik. setiap sabtu dia pasti akan lebih dulu berada di kelas, sebelum yang lain datang.

entah juga kenapa. setiap kali aku melihatnya, dadaku bergetar. seperti ada amarah yang naik hingga ubun-ubun. padahal dia tak lakukan apa-apa. kenal pun juga tidak. dia cuma mempersiapkan semua perangkat lab sebelum kami pakai.

entah siapa dan ada apa. aku benci dengan perempuan itu....

atau mungkin karena wajahnya membuatku menangis?

November 10, 2009

Tersisa

yang nulis Isma Kazee di 2:15 PM 0 komentar
3:28 PM

arya: he he kliru sayang. emang skr dah tau yang 14.30 ki jam piro
me: kan bs diitung pake jari...

Aku tersenyum kecut. Arya bahkan masih ingat aku tak bisa dengan cepat menghitung jam di atas angka 12. Harus mengurutkan hitungan, atau dengan bantuan jari-jari. Hal terkecilku, paling sederhana. Sepele, tapi berasa begitu dekat dan dalam.

Tapi, ini rekam proses pembicaraan kami satu tahun lalu. Bukan tahun ini. Tiga bulan lalu. Kemarin. Bukan juga hari ini.

October 26, 2009

Sofa Lobi

yang nulis isma di 4:41 PM 0 komentar
Tak ada yang berubah, masih seperti tujuh tahun yang lalu. Tubuhnya tetap pada postur dan berat badannya. Tidak terlalu tinggi, juga tidak gemuk. Berkacamata, ini yang berubah. Dulu gagangnya berwarna silver, terakhir Liana melihatnya. Ketika berpisah di dalam gerbong kereta ekonomi Jogja-Surabaya. Ia menangis, menggenggam tangan Liana dan menciumnya.

“Hai hai,” mereka tergelak bersama, saling tatap, meneliti perubahan. Sambil mencari posisi duduk di sofa lobi. Tapi, Liana bisa menangkap keterkejutan di wajah laki-laki itu. Mungkin karena Liana tak seperti tujuh tahun lalu, lebih gemuk dan bulat di mana-mana.
“Kamu nggak tahu ya...”
“Enggak.”
“Lho, Fahri emang nggak bilang? Aku terakhir ketemu nggak lama kok.”
Ia menggeleng sambil tertawa.

“Ada acara apa, Lang?” Liana bertanya. Lobi sedang tidak sepi. Lalu lalang orang tampak dengan aktivitas masing-masing.
“Training, baru selesai semalam.” Lalu, ia bercerita tentang pekerjaannya. Tentang tiga tahun yang menunggu, sebelum kemudian ia menikah dan lolos tes untuk pekerjaannya yang sekarang. “Jadi penghulu kan harus nikah dulu. Padahal, sejak kamu tinggalin itu aku nggak minat nikah.”
Kali ini giliran Liana yang tergelak. Gombal terdengar di telinganya.
“Kamu masih menyimpan foto segede gaban dulu itu?”
Ia mengangguk. “Masih, di antara tumpukan berkas pekerjaanku. Ya, biar saja itu menjadi bagian dari bukti sejarah,” jawabnya beromantisme. “Bagaimana denganmu? Sudah jadi apa kamu sekarang?”

“Aku? Sudah jadi direktur,” jawab Liana lalu mengumbar tawa. Dia juga bercerita tentang kegiatannya sekarang, tentang proyek-proyek baru, juga tentang keluarganya. Elang mendengarkan dengan seksama. “Kamu memang selalu rajin, Na.”
“Rajin? Maksudnya?”
“Ya rajin dalam segala hal. Aku selalu kalah. Termasuk soal yang satu itu,” jawabnya lalu tertawa.
Liana yang sempat melihat Elang melempar pandang ke arah perutnya langsung mencibir. “Enak aja. Anak pertamaku sudah besar lagi. Sudah waktunya dapat adik.”

Tiba-tiba hape Liana berdering, sebuah panggilan masuk. “Halo. Oke Mas, sebentar saya ke sana. Yup, pasti. Bye.” Liana menutup pembicaraan, lalu berucap, “Lang, tadi bosku telpon, aku harus ke kantor. Maaf ya, tidak bisa ngobrol lama.”
Elang tersenyum, mengerti. “Aku justru berterima kasih, bisa ketemu aja aku sudah senang kok.”

Liana lalu beranjak, mendekati Elang untuk menerima uluran tangannya, bersalaman.
“Boleh aku pegang babymu, Na?” tanya Elang.
Liana tersenyum, lalu mengangguk. Mungkin hanya satu detik, tangan Elang menyentuh perut buncit Liana, kemudian berucap, “Jaga baik-baik dirimu dan babymu ya.”
Lagi-lagi Liana mengangguk, sebelum berlalu. Elang mengikutinya dari belakang, mengantarnya sampai pintu depan lobi.

Selintas, Liana masih sempat menatap sofa itu, berwarna kuning gading. Hanya sepuluh menit ia duduk di atas sofa itu, membawanya kembali pada kenangan tujuh tahun silam. Waktu memang telah berubah, tapi pada sofa itu ia masih merasakan kedekatan dan ketulusan.

October 10, 2009

Maaf

yang nulis Isma Kazee di 2:11 PM 0 komentar
Sebuket bunga, pernuh warna-warni, sudah terduduk rapi di atas meja, di depan rumahku. Selembar kertas kartu ucapan, aku raih dan tertulis di atasnya:

"Aku minta maaf sedalam-dalamnya. Atas semua kesalahan baik yg disengaja atau tidak. Kekerasa hati, kekerasan ucap, semata-mata hanya karena cinta. Tak ada sedikitpun kebencian, kejengkelan, dan kemurkaan yang tidak disebabkan karena cinta. Sudilah kiranya maafkan aku. Semoga bisa dimaklumi kekuranganku. Soal menata emosi memang aku paling lemah dan cenderung tidak mampu mengendalikan diri."

Aku terdiam, menikmati semilir angin yang perlahan bergerak membawa panas dan gerah siang ini.

October 01, 2009

Unmemorabilia

yang nulis isma di 9:24 AM 0 komentar
"Ken, kamu ingat kita pernah menikmati es teler di gang ini. Waktu itu kamu yang meminta dan aku mengiyakan. Kita naik angkutan umum karena motorku sedang dalam perbaikan."

Ken terdiam, keningnya berkerut2 coba mengembalikan ingatan. Tapi, kemudian ia menggeleng, menyerah.
Aku tersenyum getir. Mengusap2 tangan Ken, memberinya kekuatan. "Kita ke tempat lain ya."

Mobil bergerak untuk yang ke seribu kalinya, menelusuri setiap kenanganku bersama Ken selama dua tahun ini. Sayang, tak ada satu pun yang masih menyisa dalam ingatan Ken. Semua sudah seperti kapur barus, hilang oleh udara bahkan membawa aromanya musnah tanpa bekas. Mobil ini sudah bergerak hampir dua bulan, setiap hari, tiada henti. Mengantarkan aku dan Ken untuk ribuan kenangan itu.

"Di pinggiran pantai ini, kamu masih ingat, pertama kali kau mau cium aku, Ken. Lembut dan penuh rasa. Aku bahkan masih bisa mengingat lembut dan rasanya. Di sini," jelasku sambil menunjuk bawah hidung dan bibirku, lalu turun ke dadaku.

Ken menatapku datar, seperti tanpa keterlibatan apa-apa, melempar pandang ke laut lepas yang bergelombang pelan. Tak lagi aku temukan tatap cinta seperti waktu kita pertama kali ke pantai ini. Tak ada lagi binar bahagia seperti dulu setiap kali ia berada di dekatku.

Kudengar ia menarik napas, dan berucap,
"Sudahlah Da, aku sudah capek. Mungkin lebih baik aku amnesia. Hidup dengan pijakan dan untuk kenangan yang baru. Terima kasih untuk ribuan kenangan yang lalu itu. Terima kasih kau masih mau menyimpan kenangan-kenangan itu untukku."
"Tapi, kita harus tetap berusaha kan Ken?"
"Hmmm, aku sudah capek. Mungkin kita biarkan saja waktu yang akan mengambalikan semua kenangan itu. Hanya saja tidak saat ini atau dalam waktu dekat ini. Atau malah sudah tak ada gunanya lagi. Aku benar-benar lelah, Da."

Angin pantai berhembus, menggerakkan anak rambut di dahiku. Aku hanya bisa tersenyum getir. Teringat catatan terakhir sebelum Ken amnesia di buku hariannya: 'Mungkin lebih baik aku amnesia dan melupakan rasa sakit dan trauma karena perubahan sikapmu, Mahda. Sebagaimana kau seperti ingin melupakan dan melemparku jauh-jauh'.

Kutatap Ken yang sudah beranjak, menapakkan jejak kaki di pasir pantai dalam tunduk dalam. "Hmmm, seandainya waktu juga bisa diputar," gumamku lirih.
 

Isma Kazee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea