Showing posts with label short stories. Show all posts
Showing posts with label short stories. Show all posts

September 13, 2009

Perempuan Durian

yang nulis isma di 4:57 PM 0 komentar
Cerpen by Isma Kazee

“Satu, durian. Dua, durian. Tiga, durian. Empat, durian. Lima, durian. Enam, roti. Tujuh, air mineral. Delapan, makan siang.”

Aku tersenyum membaca sms daftar makanan yang harus aku bawa pulang siang itu. Sms yang berhasil membuatku geleng-geleng gemas sambil tersenyum. Kebetulan urusanku di kantor bisa aku selesaikan lebih cepat, jadi tepat jam makan siang aku sudah bisa keluar. Melintas di kawasan Pondok Indah aku teringat kalau ada seorang perempuan tengah menunggu kedatanganku di rumah dalam keadaan lapar yang akut. Lalu aku berkirim sms ke nomornya, “Mau pesan apa?” Dan, daftar itulah yang diinginkannya.

Kalau dia suka durian, aku memang sudah tahu sejak awal-awal mengenalnya. Tapi, kalau dia sampai menekankan kedoyanannya pada durian dalam lima nomor daftar permintaan, seingatku baru kali ini dia lakukan. Dan, dia sudah dengan sukses membuatku tersenyum. Membuatku gemas dan ingin segera menghujaninya dengan ciuman dan gelitikan.

Kami memang sama maniaknya dengan durian. Di awal-awal pertemuanku dengannya nyaris tak pernah absen dari durian. Semula aku iseng saja, membawakan untuknya durian pada minggu-minggu pertama kencan kami. Sepulang dari kantor aku mampir ke toko buah untuk segelinding durian kecil. Ternyata, tak kuduga. Matanya berbinar sumringah dengan teriakan girang, “Haaa duriaaaan! Mauuuu!” sambil berhambur merebut durian kecil itu dari tanganku. Sebelum kemudian menghujani aku dengan ciuman dan berbisik, “Makasih ya, Sayang.”

Tak cuma buah matangnya saja, apa pun yang mengandung durian perempuanku itu juga suka. Seperti roti, es krim, es jus, tempoyak, wajik, juga terang bulan. Pernah suatu ketika, aku pulang agak telat. Baru beberapa menit membelah jalan Sudirman, ia berkirim sms, “Sayang, mpe mana? Terang bulan durian dong.” Terus terang sampai detik itu aku belum pernah merasakan bagaimana itu terang bulan durian, melihat bentuknya saja belum pernah. Tapi, demi rembulanku itu, apa pun aku usahakan.

Ia hanya mengatakan bahwa aku bisa mendapatkannya di sepanjang jalan blok M. “Aku pernah lihat kok, Mas ada tulisan martabak manis dengan berbagai rasa, salah satunya durian,” jelasnya lewat telepon. Untung aku bawa mobil sendiri, jadi bisa dengan mudah menelusuri jalanan yang ramai padat itu. Tapi, tak semudah yang aku bayangkan ternyata. Terlalu banyak outlet dan depot makanan yang aku jumpai, dan tak ada yang menunjuk pada tulisan martabak manis. Sampai aku putuskan untuk berhenti di depan pasaraya dan bertanya pada tukang parkir. Barulah aku menemukan titik terang tentang lokasi martabak manis itu.

“Enak kan, Mas?” tanyanya sambil tersenyum puas. “Manis, legit, kayak aku ya,” dan dia tertawa senang. Aku cuma mesam-mesem, meski dalam hati mengakui kalau durian dalam bentuknya yang lain, sebagai isi terang bulan ternyata rasanya tetap enak. Baru pertama kali itu aku menikmatinya. Tentu saja bersama perempuan durianku.

Tapi, musim durian tak datang tiap bulan, seperti juga buah-buahan lain yang terikat pada musim. Jika sedang musim, tak harus ke toko buah, di pinggiran jalan di sepanjang trotoar tertentu banyak penjual durian dadakan yang menggelar dagangannya. Biasanya aku akan memborong sampai lima untuk dibuat jus ataupun dimakan apa adanya dalam dua hari. Dan ketika stok habis, istriku itu akan memintaku membawakan lagi durian keesokan harinya. Namun jika sedang tak musim, selain harganya yang mahal, susah juga untuk mendapatkannya kecuali di supermarket tertentu.

Seperti siang itu, meskipun sedang tak musim, aku tergerak untuk mendapatkan durian karena request beruntun dari perempuan durian. Ia sengaja cuti hari itu, dan tengah menunggu kedatanganku di rumah. Tujuanku tentu saja ke supermarket. Ada banyak supermarket di sepanjang jalan menuju pulang, dan aku bisa memasukinya satu per satu. Tapi, lagi-lagi tak semudah seperti yang aku bayangkan. Di supermarket pertama, aku mendapat jawaban, “Tidak ada, Mas,” dari sang pegawai. Di supermarket kedua, “Baru saja habis, Mas. Dibeli sama ibu itu.”
Aku mengeluh kecewa. “Sudah tidak ada lagi, Mbak?” tanyaku berharap.
“Kirimannya belum datang, Mas. Maklum, belum musim jadi harus menunggu lama.”

Dengan terpaksa aku kembali lagi ke mobil, meneruskan perjalanan berburu durian. Membelah Jakarta yang panasnya minta ampun, lapar dan macet. AC di mobil yang belum sempat aku servis menambah gerahku siang itu.
“Bagaimana, Mas? Dapat duriannya?” suara di seberang mengingatkan perburuanku.
“Belum, sayang. Dua supermarket sudah aku masuki.”
“Tapi, masih banyak supermarket yang lain kan?” rajuknya.
Aku mendengus. “Capek nih. Duriannya besok saja ya kalau sudah musim.”
“Kalau musimnya sih sudah biasa lagi, Mas. Justru kalau menikmatinya sekarang, pas bukan musimnya, sensasinya lebih dahsyat!”
“Yeeee, alasan saja deh!”
Dan, perempuan durianku itu tertawa lepas. “Aku tunggu ya, Mas. Demi jabang bayi,” selorohnya sebelum menutup telepon.

Aku tersenyum. Demi jabang bayi, ada-ada saja. Yang ada malah demi perempuan durian karena jelas-jelas dia sedang tidak hamil. Lagi pula, mana ada perempuan hamil boleh makan durian. Karena setahuku, durian menjadi pantangan untuk ibu-ibu hamil. Bisa kontraksi dini katanya.

Setelah berputar-putar, dan hampir putus asa, harapanku kembali muncul ketika aku sudah semakin dekat dengan supermarket yang kelima. Ini supermarket terakhir yang biasanya juga aku lewati. Kalau ternyata tidak ada juga, maka apa boleh buat. Aku terpaksa harus meladeni gurendelan dan wajah mendungnya semalaman. Rembulanku akan menyusut menjadi bulan tanggal muda, bukan purnama lagi.

“Ada durian nggak, Mas?” tanyaku pada pegawai supermarket.
Si pegawai tengak-tengok, “Sebentar, Mas. Saya lihatkan dulu ya.”
Dia berlalu, dan bagiku adalah sebuah penantian yang panjang. Dalam hati aku berharap, perempuanku itu janganlah menelpon dulu sebelum aku mendapat kepastian. Di hadapanku berjajar aneka jenis buah. Kenapa tidak jeruk saja yang dimintanya. Dari supermarket pertama, aku sudah bisa membawakan pulang untuknya. Tapi, dia minta durian, dan sekarang sedang tidak musim. Huh, aku meruntuk kesal dalam hati.
Tapi, tiba-tiba runtukanku berubah jadi sunggingan senyum. Dari arah depan si pegawai datang dengan wajah meyakinkan, “Masih ada, Pak. Tapi, di ujung sana. Silakan.”

Buru-buru aku beranjak, mengikuti arah telunjuk si pegawai. Dan, tepat di pojokan di atas box kayu, bersebelahan dengan bola-bola semangka dan melon, masih ada satu gelinding durian berukuran sedang. Tepat ketika aku menyentuh buah kesukaan istriku itu, datang seorang bapak-bapak sambil tergopoh-gopoh, “Waaah Mas, sisa satu ya?”
Aku mengangguk sambil mengangkat cepat-cepat durian sedang itu. “Dan ini untuk saya. Mari, Pak,” ucapku senang. Rasanya seperti baru saja mendapatkan upah setelah satu tahun bekerja rodi. Rasanya seperti merasakan hujan setelah ribuan tahun kemarau. Lega, puas, dan bahagia. Jujur, aku belum pernah merasakan yang seperti itu. Lagi-lagi karena memenuhi rajukan perempuan durianku.

*****

Laksita, begitu perempuan durianku itu bernama. Berumur 28 tahun ketika aku berumur 38 dan menikahinya lima tahun yang lalu. Sekarang berarti dia sudah 33 tahun. Lahir di Salatiga tapi besar dan tumbuh di Batam. Aku mengenalnya dalam sebuah pelatihan manajemen di Bali yang aku ikuti. Kami sama-sama menjadi peserta yang dikirim oleh kantor masing-masing. Aku dikirim oleh kantorku dari Jakarta, sementara dia dikirim oleh kantornya dari Batam.

Setelah kebersamaan selama satu minggu itu, komunikasi kami tak pernah putus. Entah magnet apa yang membuatku terus saja ingin tahu tentang keadaannya, begitu pun dirinya. Padahal, kami terbentang oleh jarak Jakarta dan Batam. Sampai kemudian lima tahun yang lalu, aku melamarnya sebagai kekasih dan istri dalam hatiku. Kami menikahkah hati kami dalam cinta dan kasih sayang abadi. Tentu saja cuma dengan dan oleh hati karena aku sudah punya istri dan anak. Sementara dia masih single dan tak mau dimadu. Dan, rumah keluarga kami adalah Mayapada, sebuah hotel yang hommy di Jakarta.

Tiga bulan pertama, pertemuan kami nyaris bisa dihitung dengan jari. Hanya ketika aku ada tugas kantor ke Batam ataupun sebaliknya. Namun yang pasti, kami sudah berburu dan menikmati durian bersama. Bahkan, pernah aku dibuat bingung tujuh keliling ketika durian yang tersedia di sebuah supermarket belum ada yang kupasan dan terbungkus stereoform berplastik. Padahal, hotel tempatku menginap di Batam tak memperbolehkan durian masuk kamar. Mau tidak mau, aku dengan susah payah membuka sendiri durian itu dan meminta stereoform ke pegawai supermarket. Memang aman, meski tak urung ketika cek out aku mendapat teguran dan nyaris didenda lima ratus ribu.

Ahh, kenangan-kenangan itu tiba-tiba berseliweran dalam ingatanku sore ini. Lima tahun sejak pernikahan hati kami itu, aku tak pernah bisa untuk tak merindukannya. Satu tahun pertama, kami masih bisa menikmati pertemuan. Apalagi ketika pertengahan tahun dia resmi dipindah ke kantor pusat di Jakarta. Rasa-rasanya, akulah laki-laki paling sempurna mendapatkan kebahagiaan. Hidupku kian berwarna. Aku bahkan bisa menyatakan bahwa aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, bahkan dengan ibu dari anak-anakku, seperti aku jatuh cinta pada Laksita. Sampai kadang aku merasa menyesal kenapa aku melewatkan perempuan durianku itu hingga baru saat itu aku menemukannya.

Dan, memasuki pertengahan tahun kedua, tiba-tiba prahara itu terjadi. Laksita tak mau hanya menjadi istri dalam hatiku saja. Ia ingin menjadi istriku dalam hati dan nyata. Hanya dia seorang, sebagai istri dalam hidupku. “Mas tidak pernah merasakan bagaimana cemburunya aku menjadi yang ketiga setelah istri dan anak-anakmu. Aku memang mendapatkan cinta dan perhatianmu, tapi pada saat-saat kamu bisa membaginya. Tidak setiap saat aku inginkan,” isaknya pelan.

Aku diam, mengakui kalau aku memang tidak setiap hari bisa bersamanya. Meskipun aku pernah bilang, “Hatiku tetap milikmu, cinta dan jiwa ragaku, apalagi malam-malamku juga semakin panjang hanya untukmu,” pada kenyataannya tak bisa ia dapatkan dengan sempurna. Bahkan, sering kali ketika ada keperluan mendadak berkaitan dengan urusan istri atau anak, aku membatalkan jadwal pertemuan keluarga dengan Laksita. Untuk rasa kecewa ini biasanya ia hanya bisa marah, menyangsikan kedalaman cintaku padanya, dan lalu menangis nelangsa.

Tentu saja aku bingung, juga tak bisa mengambil keputusan menghadapi persoalan kami. Apalagi bersamaan dengan itu, datang orang baru dalam kehidupan Laksita dan siap menikahinya secara hati dan nyata. Orang yang menawarkan cinta dan perhatian secara penuh padanya, dan yang pasti tak akan membuatnya cemburu seperti ketika bersamaku. Tentu saja aku tidak terima. Aku cemburu. Aku ingin tetap mempertahankan keluargaku tanpa mau kehilangan perempuan durianku. Keinginan yang jelas-jelas sulit bagi Laksita.

Sejak perbedaan keinginan itu, aku tak lagi menemui perempuan durian. Bahkan ketika dia datang menemuiku di kantor. Teror smsnya tak aku jawab, telpon tak aku angkat. Email bertumpuk-tumpuk yang dikirimkannya juga tak aku baca, tapi langsung aku delete. Satu minggu, dua minggu, aku bersikukuh tak mau berkomunikasi meskipun belahan hatiku itu masih tetap berusaha mengajakku bicara dan ingin menyelesaikannya baik-baik. Sampai, satu bulan, dua bulan, dia tak pantang menyerah. Baru pada bulan yang ketiga, Laksita benar-benar hilang dari jangkauan kelima inderaku, tanpa teror sms, telpon, ataupun email, raib bagai ditelan bumi hingga detik ini.

Hari ini, pada tanggal yang sama, tepat lima tahun aku menikahkan hatiku dengan hati perempuan durianku. Aku sengaja tidak berangkat ke kantor, berdiam diri di rumah, setelah semalaman aku berputar-putar keliling Jakarta sendirian sambil menikmati durian dalam tangis. Melewati Mayapada; rumah keluarga kami, tempat-tempat kami menikmati sore romantis, rumah kontrakan dan kantor perempuanku itu, dan mampir ke depot martabak manis durian.

Rasa tak mau kehilangan dan marah karena aku harus berbagi dengan laki-laki baru itu membuat aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam. Biar waktu yang memutuskan. Namun, toh ternyata aku tetap tak pernah mendapat keputusan dari waktu. Tiba-tiba ada rasa bersalah menyeruak karena sudah membuatnya nelangsa dan meratap-ratap hampir tiga bulanan itu. Sesuatu yang sampai sekarang juga tak habis aku mengerti kenapa aku bisa setega itu. Kenapa aku tidak bisa berbesar hati dan membicarakannya baik-baik. Memahami kecemburuannya dan keinginannya. Kenapa justru pernikahan hati kami harus berakhir dalam diam dan sakit.

“Ini Mas, duriannya,” sebuah suara menyadarkan lamunanku. Seorang perempuan berambut lurus sebahu, lebih tinggi dan gemuk daripada Laksita. Berkulit putih terbungkus setelan rok di bawah lutut dan kaos lengan pendek. Dia istriku, yang datang padaku lebih dulu hingga aku melewatkan Laksita. Sepuluh menit lalu dia baru pulang dari kantor, dan aku memintanya untuk mengambilkan durian kupasan sisa semalam dari kulkas.

“Temani aku makan durian, Dik,” ajakku pelan, sambil bersandar di kursi kecil di depan rumah. Bersarung dan berkaos oblong putih. Menikmati sore menjelang senja.
Perempuan itu tak menjawab, berlalu begitu saja. Entah tak berselera, entah tak dengar, aku tidak tahu. Yang jelas, dia memang sering kali begitu, dan dia bukan perempuan durianku.

Rumah Matapena, 9 Agustus 2009

•Untuk seorang kawan, ceritakan kisahmu yang lain maka akan aku tuliskan...

dimuat di Oase Kompas online

May 12, 2009

Menantu

yang nulis isma di 3:53 PM 1 komentar
Cerpen by Isma Kazee

Satu per satu para tamu meninggalkan halaman rumah keluarga besar Purwanggono, atau lebih tepatnya rumah mertua Nenden. Neng, demikian ia biasa dipanggil, sekarang sudah sah menjadi istri Harjo, anak ketiga keluarga Purwanggono. Di pintu gerbang, terbuat dari anyaman daun pohon kelapa, Nenden dan Harjo berdiri menyalami tamu-tamu yang hendak berpamitan. Di samping mereka berdiri kedua orang tua masing-masing.

“Selamat ya, Nak. Mugo-mugo cepet dapat momongan,” kata seorang ibu ketika menyalami Harjo. Laki-laki itu cuma mengangguk sambil tersenyum. Mimiknya lucu. Mungkin karena ia harus tersenyum sepanjang acara, padahal sebenarnya ia tidak sedang ingin tersenyum. Sebenarnya tidak hanya Harjo yang merasa keki seperti itu, Nenden pun tampak demikian. Tapi apa boleh buat, demi peristiwa sekali seumur hidup, pikir mereka.

“Jaga diri baik-baik ya,” kata yang lain.
Dan masih banyak lagi petuah, harapan, dan doa terucap lewat bibir-bibir para tamu. Sampai akhirnya, halaman itu benar-benar kosong. Tamu-tamu sudah pulang, demikian juga rombongan keluarga Nenden. Tenda putih untuk resepsi sudah dibongkar. Kursi-kursi sewaan sudah dikembalikan. Perangkat sound system sudah tidak ada di tempatnya lagi. Sampah-sampah pun sudah disapu bersih.

Tinggal ibu-ibu yang sibuk di belakang membereskan alat-alat dapur, dan menyisihkan sisa makanan yang bisa dibagi-bagi. Suara mereka terdengar riuh rendah. Tinggal Nenden dan Harjo yang belepotan dengan make up di wajah. Tinggal kado-kado yang tampak menumpuk di pojok bilik tempat kedua pengantin itu membersihkan wajah. Tinggal kenangan manis acara boyongan pernikahan Nenden dengan Harjo siang itu. Tinggal status baru untuk Nenden dan Harjo sebagai suami istri, juga sebagai menantu.

***

“Sudah to, Neng. Jangan suka main perasaan. Jalani aja semuanya dengan positif thinking,” begitu nasihat Harjo pada suatu pagi kepada istrinya.
Dihitung dari acara boyongan perkawinan, mereka sudah satu minggu menjadi suami istri. Satu pengalaman hidup yang benar-benar baru bagi mereka. Mereka sudah terbiasa makan, bercengkerama, dan tidur bersama. Mereka semakin terbiasa berbagi suka dan duka. Tak ada yang disembunyikan dari pribadi kedua pengantin muda itu. Tapi, masih ada saja yang membuat perasaan Neng tidak enak.

“Iya. Tapi menjaga agar hati Neng selalu berprasangka positif bukan hal yang mudah. Sok atuh Akang tinggal di rumah abah mamah di Sukabumi sana. Pasti akan merasakan apa yang Neng rasakan sekarang.”

Ingin rasanya Neng menambah alasannya lagi. Siapa bilang menjadi menantu di rumah mertua itu gampang. Dulu, sebelum menikah, banyak sekali teman-teman sekantor Neng yang memberi wejangan, nasihat, juga tips-tips menghadapi mertua. Neng pun menerima semua pesan itu dengan dua daun telinga yang terbuka lebar. Bahkan ada beberapa yang Neng hafal. Tentu saja karena tidak sedikit yang bilang kalau tinggal bersama mertua adalah masa-masa tersulit dalam kehidupan perkawinan. Belum lagi jika ada kakak atau adik ipar. Wow! Neng jadi mabuk.

Tiga hari yang lalu, Haryati, adik Harjo berteriak keras ketika dia dapati pintu rumah depan masih tertutup, padahal sudah pukul 09.00. Memang biasanya pintu itu harus sudah dibuka lebih pagi untuk tempat sirkulasi udara. Siapa yang menyapu ruang tamu, secara otomatis dialah yang akan membuka pintu itu. Dan kebetulan, pagi itu Nenglah yang menyapu.

“Siapa yang tidak tersinggung. Masak Yati teriak: apa sih susahnya buka pintu!” lanjut Neng sambil manyun. “Enggak usah pakai teriak ngapa…”
“Tapi Yati enggak bermaksud teriak ke Neng kok,” kata Harjo menghibur.
“Enggak teriak ke Neng gimana. Jelas-jelas dia tahu kalau Neng yang nyapu tiap paginya. Emangnya Yati enggak tahu apa kalau kunci pintu disimpan di kamar ibu. Enggak mungkin kan Neng masuk nyelonong ambil kunci. Apa susahnya ia yang membuka pintu itu, tanpa harus berteriak begitu?”

Harjo terdiam. Dia dalam posisi yang sulit. Dia sebenarnya bermaksud menghibur istrinya itu dengan mengatakan: “Maafin Yati ya, Neng. Enggak usah dianggap teriakannya itu. Dia mungkin lagi kesal atau capek.” Tetapi dia takut istrinya itu akan mengira dia membela adiknya sendiri.

“Besok lagi Neng enggak mau nyapu kalau pintu rumah belum Akang buka,” kata Neng kemudian. Sepertinya dia sudah bisa meredakan emosinya dan menemukan solusi terbaik agar kejadian pagi itu tak terulang lagi. Dan Harjo pun mengangguk lega.

***

Pada suatu siang, di hari Minggu, Harjo berdiri tak mengerti melihat Neng tampak sedang mengemasi semua pakaian yang ada di almari. Separo isi almari sudah tertata rapi berpindah ke dalam koper. Harjo segera menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri Neng. Istrinya itu tampak berlinang air mata.

“Kita kontrak, Kang,” ujarnya parau.
“Kontrak piye to, Neng?”
“Kontrak ya kontrak. Neng enggak betah tinggal di rumah ini. Neng pingin punya rumah sendiri. Akang masak enggak ngerti sih!”
Harjo terkesiap. “Tidak betah? Benarkah Neng tidak betah?”

Neng tiba-tiba terdiam. Kata-kata itu begitu saja keluar lewat bibirnya. Padahal selama ini sebisa mungkin Neng tidak melontarkannya. Sesuai janjinya pada Harjo, dia akan belajar untuk betah tinggal di rumah mertuanya. Tetapi ternyata baru berjalan satu bulan, kata tidak betah terlontar dari bibir Neng.

Tidak hanya sekali sebenarnya, tetapi sering kali Neng merasa tidak enak waktu bangun siang karena semalaman dia harus lembur mengerjakan tugas-tugas kantornya. Atau dia lebih suka melepas penat dengan tiduran di kamar setelah seharian bekerja, sementara anggota keluarga yang lain ramai-ramai ngobrol di ruang tengah. Atau, dan ini yang paling membuatnya keki adalah kewajiban srawung dan nonggo yang seratus persen dia akui jarang dilakukan karena ia merasa tak lagi punya energi untuk melakukannya.

“Neng, banyak lo tetangga-tetangga yang bilang katanya mantu ibu enggak mau dolan-dolan. Sombong. Enggak seperti mantu-mantu tetangga yang lain,” celetuk ibu mertua Neng pada suatu sore.

“Ohh,” Neng terkesiap. “Maaf, Bu. Neng pikir sih sesekali bertegur sapa sudah cukup. Neng enggak perlu menyediakan waktu khusus untuk dolan,” balas Neng agak kikuk.
“Apa salahnya to main dan ngobrol bareng mereka,” tambah sang ibu. “Seharusnya kamu tahu kalau tinggal di desa itu mesti ramah dan sumeh. Kekeluargaannya itu masih kental. Kalau kamu enggak mau mengikuti aturan hidup di desa ya bisa dijamin enggak bakal punya tetangga yang peduli. Sebagai orang tua ibu sih cuma ngingetin.”

“Terima kasih, Bu. Neng enggak bermaksud untuk menyalahi aturan. Tapi Neng pingin biasa-biasa saja. Neng cuma terbiasa melakukan apa yang bagi Neng harus dilakukan. Kadang kalau Neng terlalu memusingkan apa kata orang Neng malah enggak bisa enak melakukan sesuatu. Karena orang lain sering kali memakai pola pemikiran mereka sendiri tanpa peduli dengan apa yang Neng sedang rasakan dan pikirkan. Di samping itu rasanya Neng sudah kecapekan begitu nyampai rumah.”

Ibu Harjo terdiam. Tetapi kemudian dia bersuara dengan nada keras, “Berarti kamu enggak mau srawung? Kamu pingin nglakoni apo karep-mu, begitu?”
“Bukan begitu, Bu. Bukannya Neng enggak mau srawung. Tetapi biarlah itu berjalan biasa-biasa saja. Toh Neng tinggal di sini juga baru satu bulan, masih ikut Bapak-Ibu. Lama-lama nanti Neng juga bakal kenal dengan seisi kampung sini, tanpa harus serius memaksakan diri untuk srawung.”
“Healah. Karepmu kono!”

Dan, Neng jadi kepikiran. Sebenarnya tanpa dipikir pun bisa. Tetapi, Neng tetap kepikiran. Bagi Neng menyapa ketika berpapasan dengan orang lain, mengangguk atau tersenyum kepada mereka sudahlah cukup untuk tidak dianggap sombong. Lagian Neng juga ikut jagong bayi tetangga yang melahirkan dan kondangan manten. Kenapa harus melakukan dolan-dolan khusus, kalau memang Neng marasa sudah kehabisan waktu untuk itu.

“Bisakah kita bicarakan kembali tentang keinginan Neng untuk kontrak?” tanya Harjo pelan berusaha meredam perasaan istrinya.
Neng tak menjawab, tetapi malah terisak. Meski sering kali Neng bisa kelihatan dewasa, namun kali ini dia tak habis pikir kenapa bisa perasa dan sentimentil seperti ini.

“Di rumah ini Neng jadi bingung. Karena Neng seperti dituntut untuk menjadi orang lain, sementara kalau enggak nurut pasti bapak ibu akan membenci Neng,” ucap Neng akhirnya. “Tidak bisakah mereka membebaskan kita untuk melakukan apa yang akan kita lakukan? Karena tidak selamanya pola pikir mereka benar dan tepat untuk kehidupan kita.”
“Ya… ya… Memang kitalah yang lebih tahu tentang kita. Akang sepakat itu. Akang juga tidak mau ada campur tangan dari bapak ibu. Tapi apa kemudian kita harus kontrak saat ini juga?”

“Selama kita masih tinggal satu rumah, bagaimana bisa kita lepas dari campur tangan mereka? Akang kumaha sih!”
“Ya kita bicarakan lagi dengan bapak ibu, kita minta mereka untuk lebih bersikap demokratis…”
“Susah, Akang!” potong Neng. “Akang kayak enggak tahu bapak ibu saja. Yang saya lakukan kemarin emang bukan berargumen dengan baik?”

Harjo terdiam. Menatap mantan pacarnya yang tampak mendung. Sebagai orang baru di rumah, bagi Harjo Neng terbilang berani dan bisa melakukan pembelaan di hadapan mertuanya. Tidak seperti dirinya yang cenderung diam dan tidak berani membantah. Termasuk membantah keputusan orang tuanya untuk supaya menetap di rumah induk karena dua kakak laki-lakinya sudah pisah rumah, sementara adik bungsunya adalah perempuan. Dalam tradisi Jawa, anak perempuan jika sudah menikah biasanya akan mengikuti ke mana suaminya akan pergi, demikian juga dengan Yati.

Harjo tahu persis bagaimana perasaan Neng saat ini. Neng yang terbiasa hidup jauh dari orang tuanya karena kuliah di Jogja tentu terbiasa juga dengan pilihan hidupnya tanpa campur tangan berlebihan dari orang tuanya. Neng bukan orang rumahan, dan terbiasa mandiri. Lalu, tiba-tiba ia masuk dalam kehidupan yang demikian mengikat. Lebih-lebih menghadapi ibu Harjo yang begitu memiliki anak-anaknya itu.
“Neng, kita coba dulu ya. Kita coba bicara baik-baik sama bapak dan ibu,” ucap Harjo, kali ini sambil merengkuh Neng dalam pelukan.

*****

Nenden berjalan gamang, mengikuti langkah penumpang yang lain menuju tempat pengambilan barang. Pukul 13.24 WIB pesawat yang ditumpanginya baru saja mendarat di Surabaya. Membawa terbang dirinya dari rumah mertua seorang diri. Tepat setelah tiga malam sebelumnya ia dan suaminya berbincang mendalam dengan bapak ibu tentang uneg-uneg mereka.

“Wis sakkarep. Mentang-mentang aku itu orang tua ya, sudah ketinggalan jaman jadi sudah tidak perlu digugu lagi,” jawab ibu Harjo. “Dikandani apik-apik kok malah nggugu karepe dewe. Iya kan Pak?” Bapak mengangguk setuju.
“Bukan begitu, Pak Bu. Saya dan Neng cuma ingin bersikap wajar-wajar saja kok. Bapak dan Ibu bisa memahami dan lebih memberi kami kebebasan tanpa harus didikte ini itu. Toh kita sudah sama besar dan mengerti bagaimana baiknya,” Harjo menjelaskan.
Perbincangan itu mentok. Sebagai menantu yang baik Neng tetap diharuskan ikut menjaga nama baik mertuanya dengan srawung dan nonggo seperti menantu-menantu yang lain, dengan ikut arisan malam Rabulah atau pengajian ibu-ibu malam Jumat. Tanpa mau mendengar keluhan Neng yang merasa capek karena sering kali sampai rumah lepas maghrib.

“Istri kok bekerja, ya ini akibatnya. Mana besok mau ongkang-ongkang satu bulan di Surabaya, meninggalkan suaminya ngurus dirinya sendiri. Apa patut itu?” kali ini bapak berkata tajam.

Neng terhenyak, tapi Harjo dengan hangat meremas tangan istrinya itu untuk memberikan kesabaran. Seolah membisikkan, “Percuma membantah pada bapak ibu dalam kondisinya yang sudah dianggap salah. Percayalah padaku, suamimu yang akan terus mendukung dan memahami siapa pun dirimu.”

Nenden menarik napas lega. Ia tak pernah ragu pada komitmen Harjo. Pun ia mantap menerima tawaran magang di perusahaan rekanan tempat ia bekerja, juga karena dukungan suaminya itu. Sekalian melepaskan diri menjadi pasangan suami istri yang ia dan Harjo inginkan. Mungkin di akhir bulan nanti akan ada jalan terbaik untuk kehidupan mereka berdua.

“Satu bulan itu tidak lama, Neng. Terima saja tawaran itu supaya Neng bisa berkembang lebih baik lagi. Toh tiap hari kita bisa berkomunikasi dan tiap akhir minggu Akang bisa menemui Neng di Surabaya,” demikian Harjo meyakinkan.
Sambil menarik troli berisi satu koper besar dan tas punggung, Nenden menghidupkan Hpnya. Sebelum ia sempat menelpon sopir agen travel yang sebelumnya sudah ia dapatkan, sebuah pesan singkat masuk:

Dari: Akang
Ngapurane ya Neng. Tadi enggak sempat mengantar. Tapi rasakan, ada Neng dalam setiap tarikan napas Akang. I Love U.

Yogyakarta, 10 Maret 2009

#dimuat di majalah A-Madinah Surabaya edisi Mei 2009

September 16, 2008

Fragmen Una

yang nulis isma di 12:18 PM 0 komentar
............jerawat santri

Una menitikkan air mata tapi tanpa suara. Mengingat mushala yang menjadi ruang tidurnya masih terang dan ramai oleh celoteh para santri yang belum juga beranjak ke alam mimpi. Rasanya ia menjadi satu-satunya manusia yang penuh duka nestapa, tanpa seorang pun yang mau peduli. Malam ini adalah malam kedua ia pisah ranjang sama Mahsa, buntut dari ketegangan di salon Nastiti. Sepertinya Mahsa belum bisa memaafkan ketertutupannya soal pertemuannya dengan Raziv waktu itu. Sedemikian berdosakah diri Una?

Beberapa malam terakhir ia memang semakin susah tidur. Mikirin kemarahan Mahsa, iya. Mikirin keuangannya yang mepet, iya. Mana enggak bisa pinjam sama Mahsa lagi. Dan, yang terakhir rasa kangennya sama Raziv. Akhirnya ia bisa merasakan kangen itu meski waktunya sedang tidap tepat…

Aksi saling diam antara Mahsa dan Una memang terus berlanjut. Sejak pertengkaran hebat itu, Una tak pernah lagi berhubungan dengan Mahsa. Apalagi Mahsa memang sengaja diam dan tak ambil peduli. Kalau di sekolah, Mahsa lebih suka bergabung bareng teman-teman bangku sebelah, dan baru kembali ke dekat Una ketika pelajaran akan dimulai. Itu pun pura-pura sibuk dengan bacaan atau coretan, tak memberi kesempatan buat Una untuk sekadar ngobrol. Kalau biasanya setiap ngaji klasikal mereka duduk berdampingan, sekarang Mahsa sengaja mengambil duduk dekat-dekat dengan teman satu klasikalnya yang lain. Begitu pun ketika takror, mereka tak pernah berdekatan lagi. Jangankan asyik ngobrol seperti yang biasa mereka lakukan menjelang tidur, papasan di jalan aja tak pernah saling menyapa.

Buntutnya, Una jadi sering kemrungsung. Jadi uring-uringan. Jadi tidak tenang dan panas. Tentu saja kondisi ini sangat tidak baik untuk kesehatan jerawatnya. What? Ternyata perawatan salon yang beberapa jam itu tidak benar-benar ampuh untuk mengusir jerawat di pipinya. Bintik-bintik merah itu tetap saja bercokol dengan leluasa...

............jerawat santri

January 16, 2008

Kedatangan

yang nulis Isma Kazee di 4:50 PM 1 komentar
Perempuan tua itu berkali-kali melihat ke arah pintu. Pada pintu itu terdapat gorden yang berkibar ditiup angin, seperti gerak panari yang meliuk-liuk di altar pementasan. Gorden itu juga akan bergerak jika ada seseorang yang melewatinya karena dia akan menyibakkannya, membuat jalan untuk masuk. Tapi kali ini bukan tangan seseorang yang sedang menggerakkannya, melainkan angin yang datang kapan saja, setiap saat, dan setiap waktu pun bisa jadi, bahkan pada saat perempuan itu tak menginginkannya.

Sekarang sudah mulai memasuki musim penghujan. Langit lebih sering mendung daripada tidak. Jika mendung datang pada pagi hari maka siangnya hujan akan turun. Jika ia datang pada siang hari, sore harinya hujan pun akan turun. Begitulah biasanya. Dan seperti biasanya juga angin akan memberi tanda dengan hembusan kuatnya, lalu seisi dunia yang bermassa jenis lebih ringan akan bergerak-gerak, bahkan melayang-layang dalam permainannya. Pada saat itulah hujan akan turun. Yah, biasanya karena di dunia ini memungkinkan kejadian di luar kebiasaan.

Perempuan tua itu masih tetap melihat ke arah pintu. Malah sekarang dia tak lagi melihat ke arah lain selain pintu. Tak biasanya dia seperti itu. Karena pada siang hari sesiang hari ini, dia akan disibukkan dengan pekerjaan dapur, memasak atau mengambil jemuran pakaian di samping rumahnya yang sudah kering. Tapi, siang ini dia tak bergerak seinci pun. Tatapannya lurus, tak berkedip. Setiap kali gorden bergerak-gerak dan tersibak, dia akan memiringkan kepalanya, mencari tahu apa atau siapakah yang menggerakkanya. Ada pancaran cemas penuh harap dari tatapannya itu, seolah jika gorden itu bergerak dengan sendirinya tanpa sesuatu apa pun, pasti akan terjadi sesuatu, atau bahkan sesuatu itu benar telah terjadi.

Lima hari yang lalu, seorang laki-laki asing datang bertamu ke rumah ini. Pakaiannya agak kumal dan lusuh, rambutnya tak tersisir rapi, dan sepatunya tampak berdebu tak pernah tersentuh tangan.
“Ibu harus bersabar dan jangan terlalu khawatir, begitu ia berpesan. Dia baik-baik saja,” kata laki-laki itu.
“Di mana dia sekarang?”
“Saya tidak diizinkan untuk memberitahu ibu di mana dia sekarang. Bukan kenapa-napa, Bu. Ini semua demi keamanan anak ibu saja. Pada saatnya nanti dia tentu tidak akan merahasiakan ini semua ke ibu, percayalah.”
Perempuan tua itu menarik napas panjang. Lalu berkata dengan lirih: “Apa sebenarnya yang sudah dia lakukan, dan apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?”

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan perempuan itu, tidak juga laki-laki dekil di depannya itu, sampai saat ini. Pertanyaan itu terus saja bergelanyut di benaknya. Tetapi, sebelum laki-laki itu akhirnya mohon pamit, dia sempat menyampaikan pesan bahwa besok lusa anaknya akan menemuinya di rumah ini, melewati gorden pintu yang selalu bergerak setiap harinya, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Hari itulah yang sangat ditunggu-tunggunya, dari sejak berbaliknya punggung laki-laki pembawa berita itu, bahkan mungkin sampai kapan pun saat anaknya benar-benar datang.

Sayangnya, hari ini adalah hari keenam dari hari kedatangan kurir anaknya. Berarti seharusnya anaknya sudah menemuinya tiga hari yang lalu. Tetapi, hari ini dia masih terus melihat ke arah pintu, memiringkan kepala untuk sekadar meyakinkan akan kehadiran seseorang, atau membengkalaikan semua pekerjaan rumahnya. Karena anaknya memang tidak benar-benar datang tiga hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari yang ketiga dia menunggu, bersama gorden pintu itu.

Perempuan tua itu menerawang, terbayanglah wajah anaknya yang persegi dan khas laki-laki. Anaknya memang berjenis kelamin laki-laki, dan wajah kelaki-lakiannya sudah tampak sejak dia berusia satu tahun, yaitu alisnya yang tebal, ujungnya hampir saling bertemu, matanya terbenam cekung ke dalam, hidungnya besar dan mancung, serta tulang pipinya yang kuat terlihat jelas. Anaknya itu jarang sekali berambut panjang. Kalaupun berambut panjang, itu tak bisa menutupi wajah maskulinnya. Bahkan justru menambah ciri maskulinnya.

Pada usia lima tahun, wajah itu tak begitu banyak mengalami perubahan, hanya kulitnya menjadi agak kecoklatan karena kegemarannya bermain di lapangan, seperti umumnya anak laki-laki di lingkungannya, dan sinar matahari tak pernah berhenti mewarnai kulit mukanya, sampai ia dan teman-temannya beranjak untuk pulang. Di rumah ia akan ngaso, memberi kebebasan pada angin untuk mengeringkan keringat di kening dan sekujur tubuhnya. Setelah itu, ia akan menyambar handuk dan jebar-jebur mandi dengan air sumur.

“Bagaimana bermainnya hari ini?” tanya perempuan tua itu
“Biasa, Bu,” jawabnya sambil berlalu pergi, berangkat mengaji di mushalla dekat rumah
Biasa. Kata itu kembali terngiang di telinga perempuan tua itu. Kata itu sering diucapkan anaknya itu, dan lebih sering bisa mewakili setiap ekspresinya. Ketika hari terang dan ia bisa bermain, ia mengatakan itu biasa. Ketika hari hujan dan ia tak bisa bermain di bawah terik matahari, ia pun akan berekspresi dengan biasa. Atau ketika di usianya yang lima belas tahuan ayahnya meninggal, ia pun biasa-biasa saja.
Dan akhirnya menjadi biasa juga ketika ia harus merantau ke luar kota, mencari penghidupan yang lain di usianya yang memasuki tujuh belas tahun. Dengan pengalaman sekolahnya sampai tingkat SLTP dan saat-saat bermainnya dengan teman-temannya, ia pun meninggalkan ibunya hanya dengan pesan bahwa ia akan merantau ke Jakarta, bekerja dengan pekerjaan apa pun.

Tiga bulan tidak ada kabar berita dari anak semata wayangnya itu. Baru pada bulan keempat, tiba-tiba gorden pintunya tersibak, dan muncullah seraut wajah itu. Tapi tak seperti biasanya, berlembar-lembar cerita mengalir dari bibirnya bahwa ia bekerja pada sebuah rumah makan milik orang Timur Tengah, entah tepatnya di mana perempuan tua itu telah melupakannya. Di samping mendapat gaji perbulannya, ia juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal bersama keempat teman-temannya. Dan waktu itu anaknya meninggalkan uang satu juta untuknya.

Perlahan perempuan tua itu beranjak berdiri. Pandangannya masih tetap lurus menembus gorden yang bergoyang tertiup angin. Tangan kanannya mengusap-usap ujung sandaran kursi yang baru saja didudukinya. Masih terasa benar bekas gesekan kulit tangannya dengan uang kertas lima puluhan ribu sejumlah satu juta yang diberikan anaknya waktu itu. Meski setelah itu, anaknya tak pernah lagi mengunjunginya dan memberinya uang sebanyak itu, hanya jumlah sekadarnya yang ia kirim lewat pos tanpa alamat pengirim satu bulan sekali, dan meski waktu tiga belas tahun telah menenggelamkan kenangan itu.

Dan tiba-tiba pada suatu hari, Nining, tetangga sebelah yang menjadi PNS dan biasa mengikuti berita lewat TV dan koran, datang tergopoh-gopoh menemuinya. Tangannya menenteng korang terbitan hari itu.

“Mbok, Lihat! Ini gambarnya Mas Kholid, kan? Dia jadi buronan, Mbok!”
Tiba-tiba tubuh perempuan itu menggigil, bibirnya pucat, dan tangannya gemetar, meski dia tak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, demi mendengar istilah buronan, bulu kuduknya jadi merinding. Dalam benaknya terlintas bayangan bagaimana anaknya yang menjadi buronan itu berlarian dikejar-kejar polisi dengan pistol di tangan sambil ketakutan. Sesekali ia terjatuh, tersandung batu, atau terjebak tanah yang berlubang. Lalu ia buru-buru berdiri lagi. Peluh membasahi kening dan sekujur tubuhnya. Sementara dia, ibunya, hanya bisa melinangkan air mata di pipinya.

Perempuan tua itu jatuh terduduk menerima koran dari tetangganya. Bagaimana bisa gambar itu adalah anaknya. Sebuah sketsa wajah yang persegi dengan alisnya yang tebal dan ujungnya hampir saling bertemu, matanya terbenam cekung ke dalam, hidungnya yang besar dan mancung, serta tulang pipinya yang kuat, lengkap pula dengan tulisan: Kholid bin Walid Menjadi Buronan Pihak Berwajib. Bagaimana bisa tiba-tiba anaknya menjadi buronan? Anaknya yang diketahuinya tak pernah terlibat tindakan kriminal, dan anak yang kabar terakhirnya memberitakan bahwa ia bekerja di sebuah rumah makan bersama keempat teman-temannya?

“Memangnya dia kenapa?” tanyanya polos.
“Mbok tidak pernah mengikuti berita, ya. Dia kan sudah jadi tersangka, Mbok. Tersangka dalam kasus pengeboman di Cempaka Mall satu bulan yang lalu.”

Begitu bodohnyakah dirinya sehingga dia tidak tahu-menahu siapa dan bagaimana anak laki-lakinya selama ini. Waktu yang begitu lama memisahkan dirinya dengan anaknya itu sepertinya telah merubah segalanya. Sementara gambaran dalam benaknya tentang anak laki-lakinya itu tak pernah segaris pun berubah. Kholid baginya tetaplah anak biasa yang selalu biasa untuk tiap ekspresinya. Dia tak biasa untuk meninggalkan bermain, pergi ke sekolah, atau berangkat mengaji bersama teman-temannya. Dia percaya penuh pada suara-suara dalam pikirannya itu. Anaknya pergi hanya untuk sebuah pekerjaan, dan suatu saat nanti akan pulang kembali melewati gorden pintu rumahnya, meski waktu telah membawanya sejauh apa pun.

Perempuan tua itu kini berjalan mondar-mandir dari tempatnya semula menuju pintu. Ada kilatan air menggenang di pelupuk matanya. Tak pernah sekalipun perempuan itu menemukan jawaban, dia terus gelisah. Dan memang setelah itu, hidup baginya hanya menjadi sebatas kegelisahan untuk sebab yang dia sendiri tak tahu. Beberapa orang polisi mulai mendatangi rumahnya, bertanya ini dan itu tentang anaknya, meminta keterangan dari A sampai Z yang menyangkut riwayat anaknya. Dia pun harus bercerita banyak tentang anaknya dan sering kali dia pun harus menggeleng-geleng untuk meyakinkan bahwa dia tak tahu sama sekali mengenai apa yang sudah dilakukan anaknya karena dia memang benar tidak tahu apa pun.

Dan sekarang dia sudah benar-benar berdiri di pintu. Pelan-pelan tangannya menggulung gorden yang menghalangi jalan masuk, lalu mengikatnya ke sisi pintu sebelah kanan. Dia ingin meyakinkan anaknya akan datang dan melewati pintu tanpa terhalangi gorden. Kemudian dia akan memeluknya erat-erat dan bertanya dengan nada seorang ibu: “Apa sebenarnya yang telah kau lakukan, Nak…?”

Tapi, hampir lima menit dia berdiri, tak ada sesuatu pun yang terjadi. Malah rambutnya yang mulai memutih tampak melayang-layang ditiup angin, menebarkan hawa dingin, dan menyisakan gigilan di tubuhnya yang kurus. Seandainya anaknya seperti angin, dia tak perlu berharap-harap cemas seperti ini. Dia bisa bertanya tentang apa pun kapan pun dia mau karena anaknya akan lebih sering ada untuk menemuinya.

“Aku hanya perempuan tua yang tak tahu apa pun tentang permainan di luar. Aku hanya tahu permainan angin pada gorden ini.” Itu yang akan dikatakannya kemudian.
Sementara perempuan tua itu menunggu bersama lamunannya, pada bagian dari rumah tetangganya, sebuah berita dibacakan di sebuah pesawat TV:
Dua tim hebat dari Polda Metro Jaya berhasil meringkus Kholid bin Walid di Merak. Sementara Petugas gabungan polisi dari beberapa wilayah lainnya masih menyisir sejumlah lokasi untuk memburu Asmui, laki-laki berpakaian dekil yang menjadi kaki tangannya.

Salakan Baru, 23 September 2003

November 24, 2006


Cerpen: AKU MAU BERBAGI

yang nulis Isma Kazee di 8:57 AM 0 komentar


Ayah dan Ibu sedang berkumpul di ruang tengah bersama dengan Paman Ali dan Bibi Fathimah. Kemarin pagi mereka baru datang dari Jakarta untuk berlibur. Sementara Faris, putera paman dan bibi, sedang asyik bermain bongkar pasang balok di lantai.

“Faris kok bermain sendiri. Mas Hasan di mana?” tanya paman Ali kepada Faris yang sedang asyik bermain. “Di kamar, Yah. Tadi Faris ngajak mas main bareng, tapi mas nggak mau,” jawab Faris.

Ayah Ibu langsung berpandangan, lalu tersenyum. Mereka sudah tahu kenapa Hasan tidak mau bermain dengan Faris. Apalagi kalau bukan karena dia tidak mau merelakan barang-barang mainannya dipakai juga oleh Faris....

Dan memang benar, di dalam kamar Hasan tampak sedang duduk termenung dengan wajah cemberut. Sejak Faris datang bersama kedua orang tuanya, dia jadi senang mengurung seorang diri.

“Hasan lagi ngapain?” Tiba-tiba ayah sudah berdiri di pintu kamar Hasan yang terbuka. “Kenapa tidak keluar, bermain-main dengan Dik Faris?”
“Hasan nggak suka sama Dik Faris. Mainan bongkar pasang balok punya Hasan dipakai sama dia,” jawab Hasan bersungut-sungut.
“Kan dipinjam. Nanti juga dikembalikan. Lagian mainan Hasan yang lainnya masih banyak.” bujuk ayah.

Hasan segera berdiri. Dia benar-benar kesal. “Kenapa sih, Dik Faris tidak bawa mainan sendiri. Jadinya kan tidak usah pakai mainan punya Hasan. Nanti rusak!”
Melihat sikap Hasan yang sewot begitu, ayah mendekatinya sambil berkata pelan: “Ya, sudah. Nanti Hasan tanya sendiri ke Dik Faris. Kebetulan dia sedang main di depan TV. Yuk, kita temui dia,” ajak ayah.
“Nggak mau!” jawab Hasan ketus.

“Baiklah kalau sekarang nggak mau,” kata ayah sambil duduk di tempat tidur. “Tapi besok pagi Hasan jangan sewot begini, ya. Apalagi sama Dik Faris. Dia nggak bermaksud merusak mainan Hasan kok.” Hasan tetap manyun. “Bagaimana kalau suatu saat nanti Hasan yang berkunjung ke tempat Dik Faris? Kan juga bakal pinjam mainan Dik Faris,” tanya ayah kemudian.
“Nggak,” jawab Hasan cepat. “Hasan mau bawa mainan sendiri.”
“Tentu merepotkan. Kita harus bawa persediaan baju, obat-obatan, dan oleh-oleh. Bawa mainan itu butuh tempat tersendiri. Terus nanti dibawa pulang lagi. Bisa-bisa malah rusak di jalan. Sayang kan?” jelas ayah. “Hasan mau mainannya rusak?” tanya ayah. Hasan menggeleng. “Begitu juga dengan Dik Faris. Jadi, untuk sementara pinjam kan nggak apa-apa.”
“Tapi kalau Dik Faris bikin rusak mainan Hasan?” tanya Hasan tiba-tiba.
“Kalau Hasan sudah berbuat baik, mau meminjamkan mainan apalagi mau menemani main bersama, masak Dik Faris akan berbuat jahat, merusak mainan punya Hasan. Tentu tidak, kan?"

Hasan terdiam, tangannya asyik bermain dengan ujung selimut. “Hasan anak baik. Pasti mau dong berbagi dengan Dik Faris. Cuma meminjamkan aja kok. Dik Faris nggak bakalan merampasnya. Kalau Dik Faris mau balik ke jakarta, nanti juga dikembalikan.”
Perlahan ayah berdiri, sambil bertanya, "Nah, sekarang, Hasan mau ikut berkumpul di ruang tengah atau mau tetap di kamar?”
“Hasan mau tidur,” jawab Hasan singkat.

Pagi harinya, Hasan melihat Faris sedang asyik dengan mainan bongkar pasang baloknya. Dengan tekun balok-balok itu disusunnya menjadi seperti gedung bertingkat.
Tapi kemudian, gedung balok yang sudah sempurna itu dibongkarnya kembali. Dia termenung menatap balok-balok yang berserakan. Sepertinya, Faris tidak tahu balok-balok itu harus disusun menjadi apa lagi. Dia mulai bosan. Tapi dia sama sekali tidak membanting-banting atau melempar-lemparkan balok-balok itu, sehingga nantinya akan rusak.

“Mas Hasan punya mainan yang lain nggak?” tanya Faris ketika Hasan berjalan mendekat. Hasan tidak langsung menjawab. Kasihan juga Faris, sejak kemarin dia hanya bermain dengan mainan itu. Karena Hasan memang sengaja menyembunyikan seluruh barang-barang mainannya, agar tidak dipinjam sama Faris.
“Tapi, dik Faris cuma pinjam ya. Nanti harus dikembalikan dan nggak boleh rusak,” kata Hasan mengingatkan.
“Iya. Faris janji.”
“Ayo ikut mas ke gudang, Di sana masih ada banyak mainan,” ajak Hasan sambil menarik tangan Faris.
“Kita mau main apa, Mas,” tanya Faris.
“Kita main perang-perangan aja, ya. Pasti seru!” jawab Hasan. Wajahnya sekarang terlihat bahagia, tidak cemberut lagi.

Tak berapa lama, di halaman belakang, Hasan dan Faris tampak sedang asyik main perang-perangan. Hasan memegang pistol-pistolan dengan topi koboinya. Sementara Faris, tangan kanannya menggenggam sebilah pedang-pedangan dengan perisai di tangan kirinya. “Dor…dor…dor..,” teriak Hasan. “Ciat…ciat…ciat!” teriak Faris. Menyenangkan sekali bukan? Coba kalau Hasan tidak mau berbagi meminjamkan mainanannya ke Faris. Tentu dia hanya bisa cemberut dan tidak sebahagia sekarang.

Yogyakarta, 2002

Untuk buku bergambar Oegi Studio...piye kabare dhab!


Cerpen: PELANGI

yang nulis Isma Kazee di 8:42 AM 0 komentar


Dia bernama Cia Bun How. Anak laki-laki yang umurnya kurang lebih sama dengan aku, 12 tahun. Rambutnya lurus dan tercukur rapi. Kulitnya putih bersih, seperti susu yang kuminum tiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Matanya kecil sipit, jauh berbeda dengan mataku yang ayah bilang seperti bola pingpong, kalau kugerakkan ke kanan dan ke kiri. Dari warna kulit dan bentuk mata anak laki-laki itulah, akhirnya teman-teman memanggilnya dengan “Cino”. Karena orang tuanya memang cina.

Aku mengenal Cia Bun How baru seminggu kemarin. Aku adalah anak baru di sekolahnya. Dulu, keluargaku tinggal di rumah eyang di Yogyakarta. Kemudian kami pindah ke rumah baru di Pekalongan....

Selain Cia Bun How, sebenarnya masih banyak teman-teman baruku yang lain. Ada Naning, Kartono, Surip, Rahmat, Indah, dan yang lainnya. Namun semenjak aku berkenalan dengan mereka, hanya Cia Bun How yang kulihat jarang bermain dengan teman-teman yang lain, bahkan tidak pernah. Sepertinya semua teman baruku tidak suka dengan Cia Bun How. Padahal setahuku, dia pendiam dan tidak banyak ulah. Apa hanya karena orang tuanya cina dan berbeda dengan kita?

Pernah suatu ketika aku mendekati Cia Bun How yang sedang termenung sendirian di dalam kelas. Tapi Indah langsung menarik tanganku.
“Kenapa sih, teman-teman tidak suka dengan Cia Bun How?” tanyaku
“Dia cina. Berbeda dengan kita. Orang tua kita bukan cina. Dia bukan teman kita,” jawab Indah sengit.

Terus terang aku tidak suka dengan jawaban itu. Meskipun dia cina tapi dia lahir dan tinggal di Indonesia, bukan? Berarti dia juga teman kita. Karena itu, esok harinya dengan diam-diam aku coba mendekati Cia Bun How, ketika dia sedang membaca di bawah pohon mangga, di kebun sekolah. Hari-hari belakangan ini, aku lebih sering melihat dia membaca di tempat yang rindang itu, daripada duduk termenung melihat teman-teman bermain di lapangan sekolah. Padahal sebenarnya dia bisa juga ikut bermain, bukan?

“Cia Bun How!” panggilku dengan suara rendah.
“Em..eh..kamu, Aida,” ucap Cia Bun How sedikit kaget. Dia tersenyum tipis.
“Kamu kaget ya?”
Dia menggeleng. Kemudian menggeser posisi duduknya agak menepi, memberiku tempat untuk duduk.
“Namamu panjang sekali. Aku jadi bingung mau memanggilmu dengan apa.”
“Di rumah aku biasa dipanggil Bunbun. Di sekolah aku dipanggil cino. Kamu bisa memilih, bukan? Kenapa harus bingung.”
“Kamu tidak marah kalau dipanggil Cino?”
Cia Bun How terdiam sebentar.
“Sebenarnya aku tidak suka. Sudah berkali-kali aku bilang kalau nama panggilanku Bunbun. Tapi teman-teman tidak mau tahu,” dia terdiam lagi. “Kamu tidak ikut bermain dengan teman-teman?”
“Aku ingin menjadi temanmu.”
“Tapi aku cina. Kamu jawa,” ucap Bunbun pelan, seperti menyesal karena dia cina.
“Untung kamu tahu diri, Cino!”

Aku dan Bunbun menoleh bersamaan. Kulihat Rahmat, sang ketua kelas sudah berkacak pinggang di samping kami. Di belakangnya ada Indah, Surip, Kartono, dan teman-teman kelasku yang lain. Mata mereka tajam menatap ke arah kami, menyiratkan rasa benci. Mau berulah apa lagi mereka. Kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Segera kutarik tangan Bunbun dan berdiri tegak menghadang mereka.
“Hei, Aida. Kamu mau melawan kami ya!” ucap Rahmat lantang.
“Aku tidak suka bermusuhan. Aku lebih suka bersahabat dengan siapa pun. Termasuk juga dengan Bunbun. Kalian mau apa!”
“Apa, Bunbun?”
“Ubun-ubun kali,” teriak Surip dan langsung disambut dengan tawa teman-teman yang lain.
“Kukira aku akan mendapatkan teman-teman seperti teman-temanku yang dulu,” ucapku pelan tapi tegas. Kupandangi satu per satu wajah-wajah di depanku. Mereka terdiam. “Di tempat aku sekolah dulu ada yang cina. Tapi kami selalu bermain sama-sama. Kami tidak membeda-bedakan teman. Tidak pandang dia dari suku mana, asalkan mau berbuat baik dan saling menyayangi sesama, pasti kami mau menjadi sahabatnya.
Bunbun menatapku senang, “Baik sekali teman-temanmu itu. Teman-temanmu itu seperti pelangi. Biarpun berbeda tetapi bisa bersatu,” kata anak laki-laki itu sambil menerawang ke langit lepas.
“Kamu benar. Meskipun warna-warna pelangi itu berbeda tapi bisa berbaris rapi. Dan warna-warna itu tidak saling mengganggu satu sama lain. Sehingga tampaklah pelangi yang indah dengan aneka warnanya.”

Aku terdiam sebentar. Menunggu jawaban dari teman-teman baruku. Mereka terdiam. Lalu aku berkata, “Kalau warna-warna pelangi saja bisa bersahabat, kenapa kita tidak bisa? Suku sunda, jawa, juga cina kalau mau bersama-sama saling menyayangi dan tidak bermusuhan, pasti juga akan menjadi indah seperti warna pelangi.”
“Andai saja teman-teman mau bersahabat denganku, aku janji akan selalu berbuat baik dan menyayangi kalian semua,” ucap Bunbun tulus. Aku mengangguk setuju.

Tidak ada suara. Kulihat mereka saling berpandangan. Aku bersorak dalam hati. Sepertinya mereka bisa mengerti kata-kataku. Dan benar juga, satu per satu mereka pun mengangguk. Kemudian berjalan mendekatiku dan Bunbun. Tinggal Rahmat dan dua orang temannya yang diam tek bergerak. Wajah ketiganya merengut kesal, lalu bersama-sama pergi begitu saja. Untuk saat ini mungkin mereka masih benci dengan Bunbun, tapi aku yakin suatu saat mereka pun akan melihat indahnya bersahabat seperti pelangi.

Yogyakarta, 2000


Diikutkan dalam lomba nulis cerita anak bertemakan pluralisme oleh LSPPA Yogyakarta, dan masuk di antara sepuluh penulis terbaik.
 

Isma Kazee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea