April 23, 2016

setelah ia terluka

yang nulis Isma Kazee di 9:54 PM
ia masih terdiam. menatap kosong bentangan langit berhias mendung yang sepertinya sebentar lagi akan hujan. aku diam tak berkutik. merasakan perih dalam hati. ini untuk kesekian kalinya aku membuat kesalahan. semua karena kebodohanku. dan aku tahu, seberapa panjang kalimat aku ucapkan, tetap tak akan bisa menyembuhkan perasaannya yang sudah kadung terluka. padahal, aku paling tidak bisa melihatnya tak bersinar, apalagi sampai menitikkan air mata. aku ingin melihatnya selalu bahagia, apa pun aku rela lakukan. ia adalah kawan terbaikku. tak ada hak orang lain melarangnya menjadi kawan terbaikku. selamanya akan selalu begitu. sampai kapan pun.

"aku marah sekali dengan orang itu. semua bukan salahmu. tapi ini salahku. yang tidak bisa mengiyakan keinginannya karena aku memang tidak bisa. aku tak punya kedekatan apa pun dengannya."
ia mendesah, lalu berbalik menatapku. "lalu kenapa aku yang dipersalahkan?"
"ia mungkin tak punya cara lain. ketika tak bisa mendapatkan yang diinginkan, ia cuma punya satu cara, yaitu menyakiti dan menyerang siapa saja yang dianggap sebagai musuh."
"kenapa bukan kamu yang disakiti dan diserang? kenapa aku?"
"karena kamu perempuan hebat. ia takut jika kamu tetap hebat, ia akan kalah."
"jawabanmu berlebihan. apa ini salah satu caramu supaya aku bisa melupakan serangannya?"
"tidak. aku berkata yang sebenarnya. atau kamu ingin balik menyerangnya?"
"aku tak punya masalah dengannya. aku juga bukan dia yang tidak bisa berpikir dengan baik dan hanya bisa menyerang seperti itu."
aku tersenyum. mendapatinya sudah bisa mencair.
"kamu memang hebat!"

ia terdiam. menarik napas panjang. sangat panjang.
"apakah kamu senang ia sudah menyakiti aku?"
"tidak. sama sekali tidak. aku ikut merasa sakit."
"kamu akan menikahinya?"
"tidak akan. selamanya tidak akan. aku tidak menyukainya dan ia sudah menyakitimu."
"kamu serius?"
"iya, aku serius. suatu saat nanti, ia yang baik akan didatangkan untukku. dan kamu tetap akan menjadi kawan terbaikku."
"tapi apa sebaiknya aku pergi saja."
"pergi ke mana?"
"pergi dari menjadi kawan terbaikmu."
dadaku berdegup kencang. mataku seketika berkaca-kaca. hanya mendengar kata pergi, aku merasa dunia seperti sudah akan runtuh. "jangan. sungguh jangan."
"kamu akan baik-baik saja."
"jangan pernah berpikir untuk pergi. jangan pernah."

ia tak menjawab. sepi. hanya semilir angin berhembus mengibarkan helaian rambut hitamnya yang panjang. 
 

0 komentar:

 

Isma Kazee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea